Love Button [Part 1]

Love Button1

Love Button

Storyline by Usami Maki

Remake by cnboicegirl

PG-15

A romantic comedy fanfiction

 [!!!] Aku ganti cast Aoi Kasuga jadi Lee Yeol-Eum ya! xx

Chapter one

.

.

Waktu menerima pernyataan cintaku, dia bertanya, “Kau kan belum mengenalku dengan baik. Yakin ingin pacaran denganku?”

Setelah itu barulah aku mengerti arti kata-katanya waktu itu.

.
.
.

Suasana pegunungan yang asri sangat mendukung perasaan Soojung saat itu. “Haah.. Pelatihan orientasi murid baru di atas gunung begini membuat sangat lelah ya. Iya, kan, Jung?” tanya Jiyoung pada Soojung.

“Eh?” Soojung menolehkan kepalanya pada Jiyoung dan Sohyun dengan wajah sumringah. “Masa?” lanjut Soojung.

Aigoo, lihat tuh mukanya Soojung. Benar-benar bahagia kelihatannya.” kata Jiyoung pada Sohyun. “Habis dia baru dapat pacar sih.” kata Sohyun. “Pacarmu, Kim Jongin, dari kelas khusus, kan?” tanya Sohyun. Soojung baru saja ingin menjawab pertanyaan Sohyun namun dipotong oleh Jiyoung. “Kalian berencana mau ciuman, ya?” tanya Jiyoung. “CIUM?! Mana mungkin!” seru Soojung sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi tak dipungkiri, pipinya memerah. “So-soalnya…” Soojung memainkan jari telunjuknya dan melanjutkan. “Kami masih dalam masa percobaan.” jawab Soojung dengan nada malu-malu.

Mworago? Masa percobaan??” tanya Sohyun dan Jiyoung serempak. “Iya, aku akan berusaha keras membuatnya benar-benar menyukaiku. Jadi, aku minta kesempatan dengan masa percobaan pacaran ini.” jelas Soojung dengan suara sedikit lirih. “Lalu? Dia setuju?” tanya Jiyoung. Soojung mengangguk. “Iya, dia bilang, seru juga.” Soojung tersenyum kecil sambil menggaruk-garuk lehernya. “Maka dari itu, targetku sekarang adalah mendapatkan nomor ponselnya!” seru Soojung semangat. “Hah?? Targetnya sepele sekali.” ejek Jiyoung dan Sohyun, namun Soojung tidak ambil pusing dan terus melanjutkan perjalanan.

Baru saja ia akan melanjutkan perjalanan hingga ia berpapasan dengan Jongin. “Soojung-ssi.” sapa Jongin dengan tersenyum ramah. “Jo-Jo-Jongin-ssi!” seru Soojung tergagap-gagap. “Se-selamat pagi!”

Jongin tertawa kecil melihat tingkah gugup Soojung. “Selamat pagi.”

“Jo-Jongin-ssi. Boleh aku mintaㅡ” perkataan Soojung terhenti oleh Jongin yang semakin mendekatkan wajahnya ke arah Soojung. Eoh, ada apa? tanya Soojung dalam hati. Jongin terus menatap Soojung selama beberapa detik, membuat pipi Soojung memerah.

“Itu, ada kumbang di kepalamu. Apa tidak apa-apa?” tanya Jongin. Seketika itu Soojung merasakan sesuatu bergerak di kepalanya. “KYAAAA!!” jerit Soojung panik sambil menggoyang-goyangkan kepalanya. “Tenang, Soojung-ssi.” kata Jongin. “Jangan bergerak.” lanjutnya. Soojung menutup matanya karena takut dan Jongin pun perlahan mendekatkan diri ke Soojung dan mengambil kumbang tersebut.

“Te-terima kasih.” ucap Soojung saat Jongin menerbangkan kumbang tersebut. Jongin menoleh pada Soojung dengan senyum yang sangat menawan. “Ng? Hati-hati ya.” ucap Jongin.

Dugeun. Dugeun.

Detak jantung Soojung mempercepat seiring dengan memompanya darah ke pipinya, membuatnya semakin memerah.

Tadi.. wajahnya dekat sekali! pikir Soojung sambil menyentuh pipinya yang terasa terbakar. “Yak! Jongin-ah! Ayo!” seru seseorang yang berjarak beberapa meter di depan mereka. “Iya!” balas Jongin. Ketika Jongin sudah beberapa langkah di depan Soojung, Soojung bersuara lagi.

“Ah! Tu-tunggu, Jongin-ssi!” seru Soojung membuat Jongin menoleh. “Be-beritahukan nomor ponselmu!” pinta Soojung dengan wajah memerah.

Kyaa, akhirnya kukatakan! seru Soojung dalam hati. “Maaf.” mendengar kata-kata itu, Soojung yang sedari tadi menunduk akhirnya menengadah, menatap Jongin. “Aku baru beli, tidak hapal nomornya. Lagipula, ponselku ada di tas.” ujar Jongin.

Benar juga, kalau sekarang dikeluarkan, bisa-bisa disita guru, pikir Soojung dengan perasaan kecewa. “Oh, iya. Maaf. Haha.” Soojung berusaha tersenyum walau perasaannya benar-benar kecewa.

Ah, aku mengatakannya di saat yang tidak tepat, ujar Soojung dalam hati. Soojung memejamkan matanya beberapa detik untuk meredamkan perasaan kecewanya. Jongin yang melihat itu terdiam beberapa saat sampai akhirnya memutuskan untuk mengambil ponselnya di tas. “Tunggu sebentar.” ujar Jongin. “Eoh?” Soojung membuka matanya dan menoleh pada Jongin.

Jongin sudah memegang ponselnya. “Beritahukan nomor ponselmu. Nanti aku yang menelponmu.” ujar Jongin masih dengan senyum yang tertoreh di bibirnya. “Eh? Jongin-ssi..?”

“Berapa?” tanya Jongin, sudah siap untuk mengetik nomor ponsel hingga tiba-tiba seorang guru datang dan mengambil ponsel Jongin. “Yak, kau! Siapa yang mengizinkan untuk menggunakan ponsel?!”

Soojung kaget bukan main. Ia tercengang begitu Park seonsaengnim memarahi Jongin. “Kau Kim Jongin dari kelas khusus, kan?! Kenapa malah melakukan ini, hah?!” teriaknya. “Maaf, saem.” lirih Jongin. “Saya akan sita ponsel ini sampai pelatihan orientasi berakhir! Paham?!” ucapnya lalu langsung berlalu pergi. Jongin menghembuskan napasnya dalam-dalam. Soojung menundukkan kepalanya. “Ma-ma-ma-maaf… Gara-gara aku…” wajah Soojung sudah pucat pasi. Jongin yang melihat itu seketika menyemburkan tawanya. “Hahaha! Tidak apa-apa. Santai saja.” ucapnya berusaha menenangkan Soojung. “Ta-tapi…ㅡ”

“Tapi aku butuh itu untuk alarm sih. Aku agak susah bangun pagi.” ujar Jongin dengan tangan kiri di dagunya. Soojung semakin merasa tidak enak hati. “A-Aku akan minta ke seonsaengnim.”

Eoh?

“Aku akan minta kembali ponselmu!” kata Soojung lalu langsung berlari meninggalkan Jongin dan pergi menuju Park seonsaengnim. “Hei! Soojung-ssi!” panggil Jongin berusaha mencegah Soojung, namun Soojung tidak menghiraukannya.

“Jadi, Jongin sama sekali tidak bersalah. Tolong kembalikan ponselnya, seonsaengnim.” mohon Soojung dengan wajah memelas. “Tidak boleh!” jawab guru itu dengan tegas. “Ambillah ponselku sebagai gantinya.” ujar Soojung dengan posisi berlutut dan tangan di atas memegang ponselnya. “Tidak boleh! Dasar keras kepala! Kalau kau tidak butuh, sini, saya sita sekalian!” kata guru laki-laki itu sambil mengambil ponsel Soojung.

“Aaah!” Soojung menatap pasrah ponselnya yang diambil oleh guru itu.

Soojung berjalan sendirian dengan kedua tangan memegang erat ranselnya. “Haaah… Aku tidak berhasil mendapatkannya.” gumam Soojung kecewa. “Teman-teman pasti sudah jauh meninggalkanku. Aku tertinggal sendirian.” Soojung mengangkat kepalanya dan terkejut melihat Jongin yang sedang duduk di pinggir jalan dekat pohon.

Jongin menoleh ke arah Soojung dan mereka pun bertatapan mata. “Jo-Jongin-ssi.”

“Kau lama sekali.” ujar Jongin sambil bangkit dari duduknya. “Eoh?”

Soojung menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Pipinya sekarang otomatis memanas setiap kali ia bertemu dengan Jongin.

“Maaf. Aku gagal memintanya kembali.” gumam Soojung. “Tidak apa-apa. Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu.” ujar Jongin dengan wajah tidak enak hati.

“Ta-tapi… Aku tidak ingin Jongin-ssi membenciku karena ini…” ujar Soojung sambil memainkan rambutnya dan mata yang tidak melihat ke arah Jongin.

Jongin tertegun sejenak sampai akhirnya tawapun meledak. “Hahaha!”

Soojung yang mendapat respon tersebut memasang wajah kaget sekaligus bingung.

Jongin tiba-tiba meletakkan tangannya di kepala Soojung. “Ayo jalan! Kalau terlambat, bisa-bisa kita tidak kebagian makan siang.” kata Jongin masih dengan tawa di sela-selanya.

Jongin membetulkan letak tas selempangnya lalu berjalan mendahului Soojung. Soojung diam beberapa saat dengan mulut terbuka dan tangan yang menyentuh kepalanya sendiri.

Ternyata dari tadi dia menungguku, pikir Soojung. Seketika wajahnya memerah menyadari hal itu.

“Soojung-ssi, ayo!” ajak Jongin. “Ah! Baik!” seru Soojung lalu berlari menyusul Jongin.

Ini seperti mimpi. Berjalan berdua, berdampingan seperti ini.

.
.
.

Langit dipenuhi oleh beribu-ribu bintang dengan pemandangan gunung di bawahnya. Soojung menopang dagunya di telapak tangannya, terpesona dengan pemandangan saat ini atau… teringat Jongin?

“Haah… Hari ini sangat indah.” ujar Soojung. “Langitnya cerah.” kata Sohyun sambil menaruh kasurnya. “Dimana kasurmu?”

“Hei, hei.” panggil Suji. “Kita ke kamar anak laki-laki, yuk?” ajaknya pada semua perempuan di sana.

“Wah! Ide bagus!” seru salah satu dari mereka. Sementara Soojung memegang erat bantal di dekapannya. “Eh? Aku tidak ikutan.”

Seketika semua orang yang mendengar perkataan Soojung langsung beralih padanya dengan tatapan garang. Terutama Jiyoung. “Kau tidak ingin bekerja sama dengan kami?” geram Jiyoung.

“Maunya bahagia sendiri saja!” ucap yang lain.

“Eh…?”

“Oke, dehLet’s go!” seru Jiyoung semangat sambil menyeret paksa Soojung yang dihimpit oleh lengannya.

Apaan sih?!, pikir Soojung kesal dengan keadaan pasrah diseret-seret.

“Tamannya di mana, ya?” tanya Sohyun sambil melihat keluar jendela. “Yang digosipkan itu?” tanya Jiyoung. “Gosip?” tanya Soojung. “Aku dengar dari kakak kelas. Di suatu tempat di penginapan ini, ada taman yang sangat indah. Pasangan yang ke sana dan berciuman di taman itu akan berbahagia.” jelas Sohyun menggebu-gebu. “Tapi, kalau tidak berciuman, mereka akan berpisah.” lanjut Sohyun dengan nada dramatis. “Huah, taman ya.” gumam Soojung.

“Keren juga. Lakukan itu, Jung-ah.” bisik Jiyoung. “Eoh?”

“Ciuman dengan Kim Jongin.” lanjut Jiyoung membuat wajah Soojung seperti tomat.

“Mana mungkin aku melakukannya?!” seru Soojung. “Ssstt! Jangan berisik!”

Suara pintu terbuka dan keluarlah anak laki-laki dari kamarnya. “Para murid perempuan sudah tiba.” ujar laki-laki tersebut.

Begitu ada kesempatan, aku akan kabur, pikir Soojung sambil digeret masuk ke dalam kamar para anak laki-laki. Sesaat sebelum pintu tertutup, Soojung melihat Jongin melewatinya sambil menatapnya. Bola mata Soojung memebesar seiring tertutupnya pintu. Soojung langsung membuka kembali pintu itu dengan suara kencang. “Jo-JONGIN-SSI!!” seru Soojung sambil berlari mengejar Jongin.

Jiyoung dan Sohyun mengintip di ambang pintu. “Eoh? Memangnya tadi ada pacarnya?” tanya Sohyun. “Gawat.” gumam Jiyoung dengan wajah setengah panik.

Pergi ke mana dia?! Padahal aku langsung mengejarnya, kata Soojung dalam hati sambil menoleh ke sana kemari menyusuri lorong. “Apa Anda mendengar suara anak perempuan?” suara pak guru tiba-tiba mengagetkan Soojung. Membuatnya panik. “Padahal mereka dilarang main ke kamar para murid laki-laki!” seru guru tersebut. Pak guru!

Soojung langsung bersembunyi di balik tembok sementara guru tersebut menolehkan kepalanya ke belakang, ke arah Soojung bersembunyi. “Sepertinya suara tadi datang dari arah belakang.” ujar guru tersebut.

Kyaa! Bagaimana ini?! Mereka menuju ke sini! Aku bakal ketahuan!

Soojung sudah memasang wajah pucat pasinya sambil ia mengintip sedikit ke arah guru. Tiba-tiba sebuah tangan memegang bahunya. Soojung sangat kaget, ia baru saja ingin berteriak ketika ternyata yang memegang bahunya adalah Jongin.

Jongin meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya. Menyuruhnya untuk diam. Pipi Soojung seketika memerah. “Joㅡ”

“Kita keluar lewat pintu darurat di sana.” bisik Jongin sambil menunjuk pintu tersebut.

Langit masih sama, tampak dipenuhi bintang dengan bulan purnama yang indah. Jongin berjalan di depan Soojung. Soojung berjalan dengan lesu. Tadi.. Apa yang dipikirkannya ketika aku masuk kamar anak laki-laki itu, ya? pikir Soojung. Aku penasaran deh.

Tiba-tiba saja, pemandangan di depan mereka membuat keduanya terpana. Lho? Ini

“Tamannya indah sekali. Aku baru lihat ini.” ujar Jongin dengan mata yang seolah terpaku pada apa yang disuguhkan di depannya. Soojung menoleh menatap Jongin.

Apa mungkin… Ini taman yang digosipkan itu?

Kalau tidak berciuman di sini, kami akan berpisah.

Soojung kembali menoleh ke arah Jongin lalu berpindah menatap bibir Jongin.

Ci-ciuman…

Seketika wajah Soojung memerah saat Jongin balas menatapnya.

Apa Jongin-ssi tahu soal gosip ini?

Jongin menatap Soojung yang mendadak mengalihkan pandangannya ke bawah.

Dugeun.Dugeun.

Mereka terdiam selama beberapa saat sampai akhirnya Jongin berbalik. “Ayo kita kembali.” ajaknya.

Kalau tidak berciuman, kami akan berpisah.

Soojung hanya diam di sana. Membuat Jongin yang sudah berjalan menghentikan langkahnya. “Soojung-ssi?”

Soojung menunduk berusaha mengatakan sesuatu. “I-Itu… Ba-bagaimana kalau… kita berciuman?” tanya Soojung. Kepalanya terus menunduk, tidak berani melihat seperti apa ekspresi Jongin. Pipinya sangat merah, wajahnya berkeringat.

Jongin menatap Soojung dengan pandangan terkejut. Mereka terdiam beberapa saat sebelum akhirnya Jongin menjawab dengan senyuman tipis. “Masih terlalu cepat untuk hal itu, kan?”

Soojung merasa seolah-olah ia dipermalukan di depan jutaan orang. Ia merasa sangat malu.

“Ah, iya. Benar juga.” ucap Soojung sambil membenarkan letak rambutnya. “Maaf.” setelah berucap seperti itu, Soojung langsung berlari meninggalkan Jongin. “Soojung-ssi!”

Jongin hanya diam di sana memperhatikan Soojung yang berlari di hadapannya. Jongin menghela napas berat lalu menyibak semak-semak di sampingnya.

Ternyata dibalik semak-semak itu, teman-teman Soojung beserta anak laki-laki lain sedang berjongkok, menguping pembicaraan Soojung dan Jongin.

.

.

.

Soojung sedari tadi hanya mendekam di kasurnya seorang diri, merasakan malu yang amat dalam. “Ah! Itu Soojung!” seru Jiyoung sambil berlari menghampiri Soojung.

“Kapan kau kembali ke sini? Kami cari-cari lho.” kata Sohyun. Sementara Soojung hanya diam tak merespon.

Sohyun melirik Jiyoung dengan sedih. “Jung-ah.” panggil Jiyoung. “Maafkan kami. Mungkin tadi Kim Jongin bilang seperti itu karena kami mengganggu.” aku Jiyoung.

Soojung langsung menyibak selimutnya dan menghadap Jiyoung dan Sohyun. “Eh?!”

“Dia tahu kami bersembunyi di situ.” kata Jiyoung. “Mian… kami lihat kalian keluar, lalu mengikuti kalian.” ujar Sohyun. “Karena ada kami, makanya Kim Jongin berkata seperti itu. Jadi…” Jiyoung tidak melanjutkan namun menghembuskan napas dengan perlahan, merasa sangat bersalah.

Soojung diam sejenak melihat penyesalan di wajah Jiyoung dan Sohyun.  “Tapi meski kalian tidak ada, kupikir jawabannya akan tetap sama.” kata Soojung sedih.

“Aku terlalu buru-buru. Padahal, aku ingin membuatnya menyukaiku sedikit demi sedikit.”

Perasaan sedih terasa sangat kentara mengelilingi mereka bertiga. Menciptakan suasana hening yang tidak nyaman.

“Eh, tunggu dulu!” seru Sohyun tiba-tiba. “Kim Jongin belum tahu Jung ada di sini, kan?!” tanya Sohyun. “Eoh?

“Tadi, Jongin-ssi langsung pergi mencari Soojung. Mungkin sekarang, dia masih mencarimu!”

Dibenak Soojung langsung terpampang wajah Jongin yang sedang tersenyum.

Jongin-ssi…

“Telepon saja!” usul Jiyoung. “Tidak punya nomornya. Lagipula ponselnya disita.” balas Soojung.

“Aku akan pergi mencarinya!” Soojung bangkit lalu membuka pintu. Saat membuka pintu, Soojung terkejut melihat Jongin yang ternyata sedang membuka pintu juga. “Ah! Ketemu!” seru Jongin, terlihat lega dengan keringat bercucuran di dahinya.

“Joㅡ”

“Kyaaa! Dia menjemputmu!” seru Jiyoung, Sohyun dan Suji bersamaan. Membuat pipi Soojung lagi-lagi memerah.

“Aku iri sekali!” seru Suji dari dalam.

Soojung dan Jongin diam, Soojung merasa malu karena ulah teman-temannya. “Kita keluar yuk?” ajak Jongin, memecah keheningan di antara mereka.

Mereka keluar ke taman indah tadi. Mereka menyusuri jalan setapak yang dihiasi dengan semak-semak berbunga. “Anu..” Soojung membuka suara. “Maaf, tadi permintaanku aneh. Aku bukannya ingin segera melakukannya… Ada alasannya, kok.”

Jongin menoleh dan tersenyum. “Gosip itu kan?”

“Soojung-ssi kepikiran gosip yang beredar mengenai taman itu, kan?”

Eoh? Kau tahu juga?” tanya Soojung kaget.

Jongin mengangguk santai. “Iya, aku dengar kalian membicarakannya di lorong. Lalu aku berpikir,” Jongin memegang dagunya. “Bagaimana reaksimu kalau aku ajak ke taman itu. Aku penasaran.”

Mata Soojung membulat. Ia tidak menyangka kalau Jongin memiliki pikiran seperti itu.

“Tapi maaf, sepertinya aku keterlaluan. Teman-temanmu yang bersembunyi di taman itu, di luar perhitunganku.” ujarnya.

“Aku tidak menyangka kau akan memintanya dengan cara seperti itu. Haha!” Jongin tertawa renyah, seperti itu adalah hal terlucu yang pernah ia lihat.

Sementara Soojung merasakan tiba-tiba kepalanya kosong.

Eh… apa ini? Tiba-tiba otakku tidak bisa berpikir. Jadi maksudnya…

“Kau… kau tahu mengapa aku terburu-buru ingin berciuman denganmu?!” tanya Soojung.

Jongin mengangguk dengan senyum malaikatnya. Seolah tak bersalah.

Soojung membuka mulutnya saking terkejutnya.

“Maafkan aku. Oh, ada satu lagi. Keluarkan tanganmu.” kata Jongin.

Jongin menulis beberapa angka di tangan Soojung. “Simpan nomor ini di ponselmu, ya.”

Soojung membeku. “…Jadi sebenarnya kau hapal nomornya?” tanya Soojung. Jongin lagi-lagi mengangguk dengan senyum tanpa dosa. “Maaf, aku mengerjaimu.”

Soojung terkejut bukan main.

Ternyata dia orang yang seperti ini?

“Aku sudah bilang padamu kan. Apa kau yakin mau pacaran denganku walaupun belum kenal aku dengan baik?” kata Jongin, lalu ia melanjutkan. “Masih mau masa percobaan pacaran kita dilanjutkan atau disudahi sampai di sini saja?” tanya Jongin sambil mendekatkan wajahnya ke arah Soojung.

“Pelan-pelan aku mulai punya perasaan khusus padamu.” ujar Jongin. Soojung merasakan darah berlarian menuju pipinya. “Curang!” gumam Soojung sambil mengalihkan pandangannya dari Jongin.

Eoh? Kau bilang apa?” tanya Jongin.

“Aku masih mau melanjutkan hubungan ini.” ujar Soojung. “Oke, baiklah.”

.
.
.

Begitulah ceritanya. Masa percobaan pacaran kamipun masih berlanjut.

To be continued

Gimana?? Tinggalkan jejak yah, readers!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s