Love Button [Part 3]

Love Button1

Love Button

Storyline by Usami Maki

Remake by cnboicegirl

PG-15

A romantic comedy fanfiction

 

Chapter Three

.

.

.

Soojung’s POV

“Masa percobaan ini, kapan batas waktunya?” tanya Jongin.

Ba-batas waktu?!

“Me-memang ada batas waktunya, ya?” tanyaku panik. “Tidak baik kalau berlarut-larut. Jadi lebih baik ada batasnya, kan?” kata Jongin sambil tersenyum.

Uh.. aku memang ingin menjadikannya berlarut-larut. Dibayanganku, aku dan Jongin akan menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai. Yang akan bermesraan setiap saat tapi…

“Hei, kok bengong? Hm.. bagaimana kalau satu bulan saja?” tanya Jongin, senyumnya masih tertempel manis di wajahnya.

APAAA?! SATU BULAN?!

“Tinggal 2 minggu lagi dong. Aku harus membuatmu menyukaiku sebelum itu?” tanyaku tidak percaya. Kurasa wajahku sudah pucat, aku juga tiba-tiba merasakan lemas disekujur tubuhku.

“Begitulah.” jawab Jongin dengan wajah prihatin.

TIDAAAK! Aku sudah terkikis!!

Lho, Soojung-ssi?”

Aduuuuh… Aku harus bagaimana?!

.

.

.

Author’s POV

“Dia cuma mengusilimu!” seru Jiyoung yang sedang duduk di atas meja Soojung. “Apa benar begitu?” tanya Soojung tidak yakin. “Dia sering begitu, kan?” tanya Jiyoung. “Tapi kalau dia benar-benar serius… bagaimana?”

Soojung segera memasang wajah sedihnya. Sudut-sudut matanya sudah dipenuhi air mata.

Kau benar-benar dikerjai dia! pikir Jiyoung kesal.

“Jung-ah! Dia selalu memperlakukanmu seperti itu karena kau kelihatan lemah. Kau sudah cukup menunjukkan rasa cintamu padanya. Gantian kau yang pancing dia!” seru Jiyoung dengan tangan terlipat di dada.

Soojung tertegun. “Gantian?” tanyanya. “Tidak usah kau tunjukkan perhatianmu lagi padanya, diamkan dia.” Jiyoung mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dahi Soojung. “Jangan lakukan apapun sampai dia menghubungimu duluan.” lanjut Jiyoung.

“Apa nggak apa-apa, nyuekin seperti itu?” tanya Soojung khawatir. “Kalau dia ada perhatian, pasti menghubungimu.” jelas Jiyoung. “Kalau tidak menghubungiku?” tanya Soojung dengan senyum pasrah. “Berarti tidak ada harapan lagi!”

Seruan Jiyoung seolah meninju keras diri Soojung. “Kok begituuu?!” rengek Soojung. “Ahaha! Tapi itu bisa mengeluarkanmu dari situasi ini, kan?” kata Jiyoung sambil tersenyum menenangkan. “Ba-baiklah..” jawab Soojung walau dengan wajah cemberut.

.

.

.

Walaupun beresiko tinggi, tapi…

Jongin sedang berdiri di depan pintu kelasnya, 1-1. “Lho? Hari ini nggak mau pulang bareng?” tanya Jongin. Soojung tersenyum kikuk dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. “I-iya. Aku ada urusan jadi harus buru-buru pulang.” kata Soojung.

“Aku duluan ya!” setelah itu, Soojung langsung berlari pergi meninggalkan Jongin yang kebingungan mendapati sikap Soojung yang berbeda. “Hati-hati ya!” seru Jongin dengan senyum menawannya. Soojung menoleh dan seketika itu menggigit bibirnya lalu kembali lari menjauh. Sementara Jongin tetap berdiri di sana selama beberapa detik memandangi kepergian Soojung dengan penuh tanda tanya.

.

.

.

Soojung’s POV

Langit mulai mengeluarkan semburat-semburat oranyenya. Di kamar, aku membenamkan wajahku pada bantal sambil menangis sedih.

Ukhh, padahal aku ingin pulang bersamanya!

Jongin… hiks hiks

Aku menolehkan kepalaku menatap ponsel yang sudah kuberi tempelan kertas bertuliskan:

“Bertahan!

Dilarang!

No email,

No call!

Aku menatap sedih ponselku yang tergeletak di kasur.

Apa dia akan menghubungiku kalau aku tidak menghubunginya duluan? Selama ini, selalu aku yang menghubunginya duluan… ukh! Bertahan! Bertahan!

Tik tok tik tok

Suara jam berdetik mengisi keheningan di dalam kamar. Waktu terus berlalu, tapi tidak kunjung ponselku berbunyi menandakan telepon dari Jongin sampai keesokan paginya.

Aku tergeletak menyedihkan di lantai rumah sambil menggenggam lemas ponselku. Kenapa sih Jongin sama sekali tidak menelponku..?

Kok loyo begitu, sih?” tanya Yeoreum, adikku. “Kayak kecoak.” gumamnya. Aku tidak merespon kata-katanya. “Yah, begitulah kakakmu.” ujar eomma sambil membawa baju yang akan dijemur. “Kok tidur di lorong?” tanya Yeoreum sambil menatapku kesal. “Katanya semalam tidak bisa tidur.” jawab ibu lagi.

“Mengganggu saja, tahu!” Yeoreum meletakkan kakinya di bahuku dan mendorongku agar pergi dari jalannya. “Jangan di sini dong!”

Ukh… adik yang kejam.

Jongin sama sekali tidak menghubungiku. Kalau aku tidak melakukannya sebelum hari libur, hari ini aku bisa bertemu dengannya di sekolah.

“Dia nangis tuh.” kudengar ibu berkata begitu kepada Yeoreum. Yeoreum hanya mencibir.

Dan tiba-tiba saja, suara yang kutunggu-tunggu terdengar. Suara dering ponsel yang dikhususkan untuk Jongin berbunyi!

Aku mengangkat panggilan telepon dari Jongin dengan perasaan superrr bahagia!

Soojung-ssi? Hari ini aku ada les, jadi aku mau ke stasiun dekat rumahmu.” kata Jongin. Tanpa berpikir panjang aku langsung menjawab, “Aku akan ke sana!” dengan suara lantang dan penuh kebahagiaan.

Hehehehe, walaupun dia tidak mengajak bertemu tapi aku sudah tidak tahan lagi. Ini pertama kalinya kami bertemu di hari libur!

Aku berlari menuju tempat janjian kami. Karena terburu-buru aku hanya mengenakan kaos lengan panjang bergaris-garis dipadu dengan rok monyet.

Ah! Itu dia Jongin!

Jongin sedang membaca bukuㅡsepertinya buku pelajaran. Dia menoleh padaku dan langsung menorehkan senyumannya. “Hai! Soojung-ssi.” sapa Jongin.

Dugeun dugeun.

Gawaaat! Aku malah deg-degan melihat Jongin yang begitu tampan! Aduuuh! Aku merasa seperti sedang bertemu dengan artis deh! Kyaaaaa, Kim Jongin!><♡

Seperti sudah lama tidak bertemu saja. Dia terlihat bersinar-sinar!

“Kau habis lari? Sampai berkeringat begini.” kata Jongin sambil tertawa kecil. Ia mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap keringat di sekitar keningku.

Dia terlihat berbeda tanpa seragam. Keren sekali!!

“Maaf merepotkan.” ucapku. Seharusnya dia kan les, tapi aku malah ngajak ketemuan.

“Tidak apa-apa. Masih ada 1 jam lagi kok sebelum les.” jawab Jongin. “Ke kafe yuk!” ajak Jongin.

Eoseo eoseyo. Apa anda ingin duduk di kursi khusus pasangan?” tanya pelayan perempuan. “Iya.”

BUKAN. Itu bukan aku! Jongin yang bilang itu! Aku juga kaget kok. Ki-kita kan… bukan pasangan sungguhan…

“Tempat duduk yang menghadap jendela memang bagus, ya. Kita jadi bisa menikmati pemandangan.” ujar Jongin sambil menyeruput teh hangatnya. Kurasakan wajahku memerah. “I-iya..” jawabku malu-malu.

Aahh… kursi pasangan… indah, ya!♡

.

.

.

“Lalu? Kau antar Kim Jongin sampai ke tempat lesnya? Begitu?” tanya Jiyoung dengan tampang-apa-kau-bodoh?!

“Ha-habis.. kami baru bersama satu jam, sih.” kataku sambil tersenyum-mengajak-perdamaian.

“Kau bukannya memancing reaksinya, tapi malah semakin membuatnya di atas angin! Menyambut telepon darinya dengan semangat! Pergi bertemu tanpa diajak terlebih dahulu! Sampa lari-lari demi bertemu dia! Dan mengantarkan sampai tempat les!” Jiyoung berteriak kesal sambil menoyor-noyor dahiku.

“U-ukhhh.” aku hanya sanggup memejamkan mataku sambil menyesali perbuatanku.

“Aku akan berusaha lebih baik lain kali!” seruku. “Akan kubuat dia mabuk kepayang!ㅡ”

“Wah, aku tunggu, lho.”

O-ow.

Aku menoleh ke belakang dan menemukan Jongin sedang tersenyum padaku. “Aku belum pernah mabuk kepayang, jadi aku berharap banyak padamu.” katanya lagi dengan senyum polos tapi dibalik itu pasti penuh dengan ide-ide jahilnya!

Wajahku memerah karena tertangkap basah olehnya.

“UWAAAAAA!”

Aku menjerit sambil memegang kepalaku frustrasi. Sedangkan Jongin melenggang pergi begitu saja. “Kau sendiri yang menambah masalahmu. Bodoh.” umpat Jiyoung dengan wajah “-_-”

Ba-bagaimana ini?!?!

.

Lho? Nggak mau pulang bareng? Tumben.” kata Jongin begitu aku bilang kalau aku akan pulang duluan. Aku memegang tasku dengan erat sambil melihat apa saja kecuali Jongin. “A-aku ada urusan…”

Aduh.. aku gak kepikiran alasan lain nih.

“Ya sudah.” jawab Jongin. “Tapi kau bisa saja langsung pulang duluan, lho. Nggak usah bilang padaku dulu.” lanjut Jongin dengan senyum jahilnya.

AAAH tuhkan! Aku ketahuan!!

“Apa kau benar-benar tidak mau pulang bersamaku?” tanya Jongin sambil mendekatkan wajahnya padaku, membuatku kaget setengah mati. “Ayo, sini.” ia menyodorkan tangannya. “Bisa pegangan tangan lho. Pasti menyenangkan!”

Uuuukkkh!

Aku memejamkan mataku untuk menahan godaan-godaan malaikat yang sangat tampan di depanku ini (baca: Kim Jongin).

Aku langsung saja lari meninggalkannya agar aku bisa mempertahankan harga diriku!

Dan kalian tahu apa? Ya seperti biasa, Jongin malah tertawa kencang, setelah bilang, “Eh, kabur!” seakan-akan itu adalah hal terlucu sedunia!

Aku nggak tahan lagi!!

Ternyata aku memang membuatnya merasa di atas angin! Dia seenaknya saja mempermainkan perasaanku!

AKU TIDAK AKAN MENGHUBUNGINYA SAMA SEKALI!!!

.

.

.

Eomma, tolong cucikan baju iniㅡeoh?” suara deritan pintu disusul suara adikku datang dari arah depanku. “Uwaa! Kenapa begini lagi, sih?” teriaknya kesal saat melihatku tiduran di lorong rumah, menghalangi jalannya.

Uh… tidak ada kabar darinya… padahal sekarang sedang libur golden week!

Padahal dia tahu aku sedang menahan diri! Kejam sekali…

.

.

.

Jongin’s POV

Aku memasukkan buku-buku pelajaran ke tas setelah jam lesku telah selesai. Teman-teman sekelasku segera menyerukan, “Ayo pulang!” dan “Akhirnya selesai!”

Tapi ada yang lebih menarik didengarkan dari pada itu. Dari belakangku, 2 orang temanku sedang mengobrol. “Sudah menelepon pacarmu?”

Ah, aku jadi teringat Soojung.

Aku menoleh dan melihat mereka yang sedang mengobrol sambil memasukkan barang-barang mereka ke tas. “Belum.” kata si cowok yang satu lagi dengan raut wajah khawatir. “Apa tidak apa-apa? Mungkin dia nangis lho.”

Nangis…

Haha, mungkin Soojung juga menangis saat aku tidak menelepon-neleponnya.

“Huwee, dia tidak meneleponku!” begitulah kira-kira sambil memegang ponselnya erat-erat. Hahaha, kalau dipikir-pikir lucu juga.

Sepertinya aku agak keterlaluan. Aku akan meneleponnya deh.

Aku membuka tasku untuk mengambil ponselku. Tapi, lho? Kok tidak ada ya?

Aku mencari-cari di sela-sela buku tapi tidak menemukannya juga.

Mwo?! Dia tidak bisa dihubungi? Gawat banget, tuh!” seru orang tadi yang sedang mengobrol.

Aduh, bagaimana nih?

Ya sudah deh, aku ke rumahnya saja.

.

Kurang lebih 10 menit, aku sampai di rumah Soojung. Aku menekan bel beberapa kali, tapi tak ada yang menjawab. “Sepertinya mereka sedang liburan.” ujar seorang nenek yang kebetulan melewatiku.

“Ah, begitu. Terima kasih, nek.” kataku sambil membungkukkan badan.

Aku memasukkan tanganku ke saku celana dan mulai berjalan menjauhi rumah Soojung. Aku mengusap tengkukku frustrasi. Ah.. semoga dia baik-baik saja.

.

.

.

Soojung’s POV

Keadaanku masih sama. Tidak baik sama sekali. Aku tergeletak di lantai di rumah sepupuku. Kami sekeluarga sedang berlibur di rumah sepupuku dengan kerabat-kerabat yang lain.

“Soo eonni! Ayo main!” ajak Jung Gayeong, adik sepupu kembarku yang masih berusia 4 tahun. Sedangkan Jung Gayeon menanyakan keadaanku pada Yeoreum. “Yeol eonni, Soo eonni kenapa?”

“Biarkan saja dia begitu.”

Keluargaku yang lain sedang asik mengobrol sambil minum-minum. Sedangkan aku masih meratapi nasib gara-gara Jongin tak kunjung meneleponku juga.

Aku tidak tahan lagi! Aku akan meneleponnya!

Aku bangkit dari posisi tergeletakku dan langsung mengambil ponselku. Uwaaa bendera putih sudah kukobarkan!

Aku menelepon Jongin, namun yang kudapati malah membuatku membeku seperti berada di tengah-tengah badai salju.

“Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, silakan tinggalkan pesan.”

Sudah berkali-kali kucoba, tetap saja sambungan akan ditujukan pada operator.

Kenapa…. kenapa dia tidak bisa dihubungi? Apa karena aku tidak meneleponnya lagi?

Air mata sudah menggenang di sudut mataku.

Padahal tinggal satu minggu lagi sebelum masa percobaan pacaran kami berakhir…

Apa… semua ini sudah berakhir?

.

.

.

“Duuuh! Kita terjebak macet nih!” seru Yeoreum kesal. “Sampai di rumah jam berapa kalau begini?!”

“Makan malamnya?” tanya ayah. “Tidak perlu makan malam.” ujar ibu. “Tapi besok pasti sudah sampai, kan?” tanya ayah. “Besok kan sekolah, ayah!” seru Yeoreum kesal.

Aku diam sambil menyenderkan kepalaku di jendela mobil. “Semakin dekat ke rumah, semakin dekat pula kenyataan yang menyedihkan.” ucapku setengah tidak sadar.

Yeoreum langsung menoleh padaku dengan tatapan horor. “Hah? Eonni? Ngomong apaan, sih!”

“Aku tidak mau pulang…”

Sepulangku nanti, aku harus mendengar jawaban Jongin yang menyakitkan hati. Sebelumnya dia pernah menolakku, tapi aku nyatakan cintaku lagi dengan sisa-sisa pengharapan teakhir. Tapi… kalau sampai ditolak lagi, aku tidak akan bisa bertahan lagi. Karena… aku jadi semakin suka Jongin. Lebih dari sebelumnya.

Aku menggenggam erat ponselku sambil menangis kecil. Ini benar-benar menyakitkan, Jongin.

“Ih! Dia nangis lagi!” seru Yeoreum kesal. Aku tidak peduli. Saat ini aku sudah mencapai klimaks tersedihku. “Eomma, tolong ambilkan tisu.” pinta Yeoreum.

Trang tralala trang~

Eoh?

I-ini… Bunyi ini…

Aku melihat layar ponselku dan menemukan nama Kim Jongin di sana.

Yeoboseyo?

“Jo-Jongin-ssi…” aku mengelap air mataku, namun air mata itu tetap meluncur keluar. “Aku coba menelponmu..”

Iya, maaf. Szzzrkkk. Ponselku hilang, belum ketemu. Szzzrrkk.” ujar Jongin tidak begitu jelas di telingaku karena suara kresek-kresek.

“Apa? Aku tidak dengar.” kataku sambil mencoba mendengar lebih jelas.

“Sekarang kau dimana?” tanya Jongin. “Di mobil. Sebentar lagi sampai rumah.” kataku. “Aku.. ada.. aku ada di depan rumahmu, di depan rumah Soojung-ssi. Aku akan menunggumu.”

.

.

.

Author’s POV

Bruuum, suara mobil mendekat dan suara pintu mobil ditutup membuat Jongin menoleh. “Jongin-ssi!” teriak Soojung. Jongin terpaku melihat Soojung yang menangis di hadapannya. Baru kali ini ia melihat Soojung yang benar-benar menangis.

“Kenapa kau tidak menelponku, siiih?!” teriak Soojung kesal bercampur sedih dengan air mata yang terus mengalir membelah pipinya. Jongin mendekati Soojung dengan perasaan bersalah. “Padahal aku selalu menunggu teleponmu…” lirih Soojung sambil mengusap air matanya.

“Maaf, ponselkuㅡ”

Jongin menatap Soojung yang benar-benar terlihat sedih. Rasa bersalah menggentayanginya. “Ah, bukan. Maaf, aku keterlaluan memperlakukanmu.” Jongin menarik pelan bahu Soojung, meletakkan kepala Soojung di dadanya.

Soojung terpaku sebentar, kemudian ia memejamkan matanya, kembali menangis.

“Soal batas waktu itu, aku hanya bercanda.” kata Jongin. “Iya.” jawab Soojung dengan suara lirih.

Dalam dekapan Jongin, aku jadi berpikir, mungkin akan datang saat di mana kami benar-benar jadi berpacaran.

 

To be continued

Kyaa~~ ini termasuk cepat lohh wkwkw semoga ga bosen nunggu ff ini yaah~~ Jangan lupa komen^^ Btw, buat yg—siapa tau—ada yang nunggu I Only See You mwehehe, jangan khawatir, tinggal diberi bumbu2 sedikit buat mempercantik/? Aku bakalan cepetan update kok hehe jangan bosen ya 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s