Love Button [Part 4]

Love Button1

Love Button

Storyline by Usami Maki

Remake by cnboicegirl

PG-15

A romantic comedy fanfiction

Chapter Four

.

.

.

Author’s POV

“Maaf, aku keterlaluan mempermainkanmu.”

Jongin-ssi…

“OOOHH~~~” Soojung melamun memikirkan kejadian kemarin. Ahhh~ Indahnya!~ Jongiiiin~~

BRAK!!

“Woy!! Berisik, tahu!” suara pintu dibuka dengan kencang disusul dengan suara Yeoreum yang keras membuat Soojung terkejut. “Lho? Yeoreum di sini?” tanya Soojung dengan muka memerah karena malu. “Aku memanggilmu dari tadi. Sudah waktunya makan!” jawab Yeoreum dengan kesal.

Soojung berdiri dari kursinya, “Oh, i-iya, iya. Aku ke sana.”

Saat di ruang makan, suasana tidak begitu bagus. Seakan-akan ada aura-aura hitam kelam yang menyelubungi kedua bersaudara tersebut. “Yeoreum-ah, lagi kesal ya? Diapakan kakakmu?” tanya ibu sambil meletakkan piring untuk ayah. “Eoh, Soojung-ah, ibu kaget, lho.”

“Ng?”

“Begitu pulang, Soojung langsung pelukan sama pacar.”

Perkataan ibunya tersebut membuat Soojung menyemburkan makanan yang sedang dikunyahnya. “Yak!!! Kotor, nih!!” teriak Yeoreum kesal. Soojung menutup mulutnya panik. “Ma-maaf.”

“Sejak kapan Soojung punya pacar? Ya kan, Ayah?” tanya ibu Soojung pada suaminya.

“Huh, laki-laki apaan tuh! Selama kita pergi, kau selalu menangis dan murung! Pasti karena laki-laki itu, kan!” seru Yeoreum kesal. Soojung memegang sumpitnya dengan gugup. “Jangan-jangan, kau dipermainkan laki-laki iseng?”

Pertanyaan simpel itu mampu membuat Soojung membuka mulutnya lebar-lebar dan ayah Soojung menjatuhkan sumpitnya. Untung saja ibu perempuan yang kuat, jadi dia tidak menjatuhkan nampan yang berisikan lauk pauk.

“BENAR BEGITU, SOOJUNG-AH??” tanya Ibu histeris. “Orang seperti apa dia?!”

“Bu-bukan! Kim Jongin orang baik, kok!!” Soojung berusaha menenangkan orang tuanya. “Maksudmu, cuma kau yang bisa mengerti dia? Dasar bodoh.”

“Anak perempuanku…”

Soojung panik setengah mati melihat ayahnya yang sudah berpose pasrah. “Bu-bukan begitu, appa!!”

“YEOREUM-AHHH!!”

“Bukan begitu, kooookkkk!!!”

.

.

.

Soojung’s POV

“Hahahahaha. Bodoh? Hahaha.”

“Ini sama sekali tidak lucu, Jongin-ssi.” kataku sambil menyatukan kedua telapak tanganku, memohon. “Terus, bagaimana jadinya? Eoh? Pose apa itu? Hahaha.”

Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mengatakan apa maksudku. “Mianhaeyo, aku tahu permintaanku ini mustahil, tapi… da-datanglah ke rumahku, temui keluargaku.”

Aku melirik ekspresi Jongin yang tidak bisa dibaca.

Eomma minta, aku mengajakmu sesekali! Aku tidak bisa bilang kalau kita belum pacaran resmi.”

Aku kembali melirik ekspresi Jongin saat belum ada jawaban. Uwaaa, bagaimana nih?? Apa dia akan menarik diri gara-gara permintaan yang menekan ini?

“Boleh saja!” seru Jongin riang. Eoh?

“Aku memang ingin kenalan dengan keluargamu. Jadi, kapan?”

Eh… Sungguhan nih? Kenapa?

“Sabtu atau minggu?”

Kenalan dengan orang tua, lho!

“Hehe, rasanya ini… seperti mau perkenalan untuk nikah, ya!” ujar Jongin tiba-tiba. Aku kaget setengah mati!

Aku akan mengenakan gaun putih sambil menggenggam sebuket bunga yang indah, lalu Jongin akan mengenakan tuksedo putih yang sangat pas di tubuhnya.

Jo-Jongin-ssi…. Apa kita… akan segera pacaran resmi?!

Ahh~ Jongiiin~~ㅡ

“Soojung-ssi?”

“Ah! Ne!”

“Sebagai tanda maaf, aku mau kerjasama.”

Aku tersenyum riang.

..

Eoh? Apa katanya? Kerjasama?

“Aku menyulitkanmu soal batas waktu percobaan, juga bertanggung jawab karena membuat keluargamu khawatir. Makanya aku akan bekerjasama! Dengan ‘berpacaran’!”

Kata-kata Jongin barusan benar-benar menimpaku tepat di atas kepala. Huh, kau ini berpikir apa sih, Soojung? Tidak mungkin Jongin menyukaiku kan.

Jongin tertawa kecil lalu mengelus-elus kepalaku. Aku mendongakkan kepala dan melihat senyum malaikatnya lagi.

“Aku akan berusaha supaya keluargamu tidak membenciku.”

Aku terpaku. “I-iya.”

Uh… ini juga seperti dialog perkenalan pernikahan. Aku tidak akan tertipu!

.
.
.

Author’s POV

“Yeoreum-ah! Jangan pergi dulu, Jongin-ssi mau datang.”

Yeoreum menoleh dengan wajah masam. “Apa sih, kenapa dia yang datang jadi pada kalang kabut. Huh!”

“Sudah siap, Bu??” tanya Soojung dengan panik. “Se-sedikit lagi.” jawab Ibu dengan gugup, memasak makanan untuk Jongin. Sementara Ayahnya berpura-pura tenang dengan membaca koran di sofa.

TING TONG

“I-iya!” jawab Soojung sambil berlari ke pintu masuk. Sementara Ibu dan Ayahnya mengintip dari belakang. “Geser, dong, Ayah! Gendut, sih!” bisik Ibu sambil menggeser-geser ayah. Sementara Yeoreum menatap mereka berdua dengan tatapanㅡseriusan?-apaan-sih-mereka-ini.

“Selamat datang, Jongin-ssi.” sapa Soojung. Jongin masuk dengan kotak roti di tangannya. “Permisi.”

“Lewat sini, Jongin-ssi.” Jongin mengangguk dan tiba-tiba matanya menangkap Ayah dan Ibu Soojung yang sedang mengintip. “Eoh, selamat siang.” Jongin membungkukkan badannya setengah. “Aku seangkatan dengan Soojung. Kelas 1-1, Kim Jongin.” Jongin membungkuk lagi dengan penuh hormat. “Terima kasih telah mengundangku.”

Ayah dan ibu Soojung langsung tersenyum senang. “Eh, iya.” jawab ibu Soojung. “Anak muda yang menyenangkan.” ujar ayah Soojung dengan lega. “Iya, Ibu suka deh.”

Soojung tersenyum-senyum di belakang Jongin. “Ayo, silakan duduk, nak Jongin.”

“Jongin-ssi, kau masuk kelas khusus?” tanya ayah Soojung. “Ne, majayo.
“Wah! Siswa unggulan!”

Soojung menoleh kesana-kemari. “Lho? Omong-omong, Yeoreum mana?” tanya Soojung. “Mungkin di kamarnya.” jawab ibu Soojung. “Duuh! Yeoreum-ah! Jongin-ssi sengaja datang kemari, lho. Ayo kenalan sini.” teriak Soojung.

Yeoreum pun keluar dari kamarnya setelah mendengar suara berisik dari kakaknya. “Nah, Jongin-ssi, kenalkan, ini adikku, Yeoreum, kelas 3 SMP.” kata Soojung. Sementara Yeoreum memasang wajah masam tanpa menatap Soojung ataupun Jongin.

“Hai, aku Jongin. 3 SMP? Kelihatan dewasa, ya.” ujar Jongin sambil tersenyum. Yeoreum mengangkat wajahnya dan melihat Jongin tersenyum padanya.

Deg

Yeoreum langsung memalingkan wajahnya dengan semburat-semburat merah yang terlihat samar di pipinya.

“Yeoreum-ah, mau bolu? Tadi dibawain Jongin, lho. Mont Blanc juga ada.”

Yeoreum segera pergi dari hadapan mereka tanpa mengucap satu patah kata pun.

“A-ah.. mi-mian. Dia memang tidak ramah.” kata Soojung. “Mungkin aku yang salah.” jawab Jongin. “Aniyo, dia memang begitu.”

“Padahal aku mau mempertemukan Yeoreum denganmu. Dia yang bilang aku bodoh.” lanjut Soojung.

Jongin hanya diam menatap pintu yang beberapa detik yang lalu dimasuki Yeoreum. Rasanya ada yang aneh.

.
.

“Eh, kenapa tiba-tiba ingin lihat kamarku?” tanya Soojung dengan wajah memerah dan kepala menunduk. Jongin masuk sambil menutup pintu, meninggalkan sedikit celah.

“Soojung-ssi.” panggil Jongin tiba-tiba. “I-iya?!” jawab Soojung dengan terkejut. Ia menolehkan wajah ke arah Soojung dan melihat wajah Jongin yang terus mendekat ke wajahnya.

Eh… Eeh?! Tidak mungkin! Kyaaa!

Dari sisi lain, kamar Yeoreum yang tepat berada di depan kamar Soojung, melihat kepala Jongin yang dekat sekali dengan wajah Soojung, seperti ciuman.

Yeoreum buru-buru menutup pintu kamarnya dengan perasaan tak menentu.

“Jo…”

Dahi Jongin dan Soojung sudah nyaris bersentuhan.

“Jo-Jo-Jo-Jongin-ssi?!” seru Soojung gugup sambil memundurkan kepalanya. “Pssst!” Jongin meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya. “Yang itu, kamar adikmu?” tanya Jongin menunjuk pintu kamar dari sela-sela. “Eoh? Iya.”

“Dia sedang mengintip. Lebih baik kita tunjukkan sisi bagus untuk menenangkannya.” ujar Jongin. “A, ah… begitu ya?”

Soojung meletakkan telapak tangannya pada kedua pipinya yang terbakar. Kaget deh…

Jongin yang melihat tingkah Soojung tersenyum kecil. “Ah! Mungkin dia melihat lagi!” seru Jongin. “Ayo kita berakting!”

Jongin langsung meletakkan tangan kanannya pada punggung Soojung sebagai sanggahan, sementara tangan kirinya menahan di tembok.

“Jo-Jongin-ssi, a-anuㅡ”

“Diamlah. Pura-pura saja, kok.”

Soojung memejamkan matanya dengan perasaan berdebar. Sementara Jongin menutup matanya dengan senyum jahil yang terukir di bibirnya.

Jongin membuka mata dan melihat Soojung yang tampak sangat gugup. Senyum jahilnya tergantikan oleh wajah serius. Jongin menutup matanya kembali dan mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Soojung. Tinggal beberapa senti lagi dan mereka akan…

JDUG!

Soojung langsung membuka matanya dengan keadaan shock. Soojung memegang dahinya yang berdenyut dengan kepala kosong. “Duh… ahahahaha!” Jongin tertawa kencang sambil memegang perutnya.

Eoh?” Soojung menolehkan kepalanya ke arah pintu kamar Yeoreum yang ternyata tertutup. “Tertutup! Dia gak lihat! Ka-kau menipuku?!” seru Soojung kesal dengan wajah memerah.

“Nyebeliiin!”

Sementara Jongin hanya tertawa puas melihat wajah kesal Soojung.

“Ada apa? Kok ribut? Ada sesuatu?” tanya Ibu Soojung dari lantai bawah. Soojung melongokkan kepalanya dari pintu. “Nggak apa-apa, kok!” seru Soojung.

Jongin yang ikut mengintip dari atas kepala Soojung tersenyum kecil saat Soojung menoleh kearah Jongin dengan tampang kesal.

Apa maksudnya iseng begini, sih?! Aku kan deg-degan banget, tahu!

Jongin mengacak-acak rambut Soojung dengan gemas.

Hari ini, dengan datangnya dia ke rumahku, apa aku… boleh berharap?

.
.
.

“Kim Jongin baik ya! Ganteng lagi.” kata Ibu Soojung saat sedang mencuci piring. Soojung yang sedang mengelap piring menjawab dengan ceria. “Iya, kan? Jongin belajar juga di bimbingan belajar Ajou, yang dekat stasiun.” jelas Soojung. “Wah, itu kan terkenal bagus. Levelnya tinggi.”

Eomma, aku juga ingin belajar di sana.” ucap Soojung.

Eomma!”

Soojung dan Ibunya menoleh, menemukan Yeoreum. “Aku juga ingin belajar di sana.”

.
.
.

“Jongin-ssi!” Soojung yang melihat Jongin di depannya memanggilnya. Jongin menoleh dan sedikit terkejut melihat Soojung. “Eoh, Soojung-ssi… dan adiknya.” Jongin menghampiri Soojung yang sejak tadi tersenyum. “Kami juga mau ikut bimbingan belajar. Sekarang mau tes masuk.” jelas Soojung.

“Oh, kau yakin? Susah, lho.” jawab Jongin dengan wajah heran. “Ah! Nggak terlalu pede sih, tapi aku akan berusaha keras!”

.

“Soojung-ssi.” panggil Jongin begitu Soojung keluar dari kelas tesnya. “Gimana tesnya?” tanya Jongin. Soojung hanya tersenyum tanpa menjawab apa-apa. “Gagal, ya?” tebak Jongin. Soojung langsung memasang tampang tertekan sekaligus suram. “Katanya, dengan kemampuan akademisku lebih baik belajar dengan guru privat.” jawab Soojung.

“Ooh, begitu. Sayang, ya. Aku pikir kita bisa belajar bareng di sini.” jawab Jongin dengan senyum maklum. Soojung yang memiliki hati selembut sutera pun melengkungkan bibirnya ke bawah. “Jongin-ssi… aku juga mau, hiks hiks.”

Yeoreum yang melewati mereka berdua menatap kesal pada kakaknya. “Aku pulang duluan!” serunya pada Soojung. “Ah! Matta. Adikku diterima. Meski beda kelas, aku titip dia, ya.” kata Soojung. Yeoreum menganggukkan kepalanya pada Jongin dengan tatapan datar. Jongin merasakan ada yang aneh dengan adek Soojung. “Oh, iya.”

.

.

.

“Wah, wah. Aku baru lihat, nih.”

“Cantiknya!”

Jongin yang melihat hal seperti ini jarang terjadi penasaran dan melihat kerumunan orang yang sedang berpusat pada sesuatu. “Wah, daebak. Cantik sekali. Dia sekolah dimana ya?”

“Manis, deh.”

pipipi

Jongin mengambil ponselnya dan membuka pesan dari Soojung.

“Adikku mulai les hari ini. Kalau bertemu titip, ya. Pelajaran sampai jam berapa? Semangat, ya!”

Jongin tersenyum kecil sambil memikirkan Soojung yang pasti sebenarnya ingin menuliskan kata-kata ‘kangen’ atau sejenisnya lalu membalas pesannya.

“Aku baru selesai, sudah mau pulang. Lapar, nih.”

pipipi

“Iya, ya. Kalau belajar perut jadi lapar. Harus cepat pulang, tuh.”

Jongin terkikik geli. Dia yakin kalau sebenarnya Soojung ingin sekali bertemu dengannya.

“Jongin.”

Jongin menoleh dan menemukan Yeoreum. “Aah, adiknya Soojung. Baru mau mulai?” tanya Jongin. Yeoreum tersenyum. “Nggak, sudah selesai.”

Eoh?”

“Aku menunggu Jongin.” kata Yeoreum dengan senyum yang tak biasa di bibirnya. Dia sangat berbeda. “Soalnya hanya di sini saja bisa bertemu denganmu tanpa dia.”

“Ada waktu?”

Jongin menatap heran Yeoreum. Ada sesuatu yang terasa ganjal. Matanya…

Jongin mengetik sesuatu pada ponselnya.

“Maaf, sekarang aku sudah ada janji.” ujar Jongin sambil tersenyum ramah. Yeoreum hanya bisa memasang wajah terkejutnya.

.

.

.

Soojung’s POV

“Aku ingin makan di sekitar sini, mau bareng?”

Kyaaa!! Kapan lagi Jongin bakalan ngajak aku makan bareng?? Duuh!! Gimana, nih? Pakai apa… Baju bajuuu!!

Aku berlari menuju tempat janjian kami. Dari kejauhan kulihat Jongin sedang bersender pada tembok. “Jongin-ssi!”

“Maaf! Lama, ya?” tanyaku. Jongin menoleh sambil tersenyum. “Tidak apa-apa. Mau makan dimana?” tanya Jongin. Aku memikirkan sejenak. Enaknya dimana ya? Hmmm. Aku mengedarkan pandanganku dan menangkap sosok adikku sedang berjongkok di balik pagar tanaman. “Eoh, Yeoreum-ah?”

“Yeoreum sudah selesai juga? Makan bareng, yuk!” ajakku riang. Tapi Yeoreum malah membuang wajahnya dengan tampang kesal dan melenggang pergi. “Ada apa, ya?” tanyaku bingung. “…entahlah.”

.

.

.

Author’s POV

“Hanya di sini bisa ketemu kamu tanpa dia…”

Kepala Jongin sedari tadi memutar ulang omongan Yeoreum padanya. “Soojung-ssi… adikmu itu…”

“Ya?” jawab Soojung dengan wajah gembira. Dipikirannya hanya berisi, “Makan siang bersama Jongin! Makan siang bersama Jongin!”

Jongin yang melihat wajah sumringah Soojung pun mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang Yeoreum. Jongin tersenyum kecil, “Nggak. Di mana restorannya?”

“Sebentar lagi. Ah, ini dia! Kedai kecil dan imut!” seru Soojung sambil menunjuk sebuah kedai yang terlihat sangat girly.

Soojung dan Jongin terpaku saat melihat harga-harga di menu yang terpampang di depan kedai.

“Ha… ha.ha.ha. Daging domba 45.000 won, daging sapi 52.000 won, ikan 39.500 won….” ujar Soojung shock.

(1.000 won = 11.500-an rupiah)

 “Untuk dua orang?” tanya pelayan kedai begitu melihat Soojung dan Jongin di depan. “Eh, anu.”

Aduuuh! Ternyata mahal sekali!

Soojung melihat ke arah Jongin yang terlihat serius.

Gawat, nih.

“Maaf, anu… akuㅡ”

“Hei, di sini memang bagus, tapi mumpung cuacanya cerah, makan di luar saja, yuk?”

.

Soojung’s POV

Sudah kuduga, Jongin memang orang yang baik. Kan bisa saja dia bilang padaku kalau aku ini tidak pernah berpikir dulu. Aku memang belum pernah ke sana dan aku tidak tahu kalau tempat itu sangat mahal. Jongin benar-benar baik.

Aku memandang sungai yang terasa begitu sejuk. “Wah, nyamannya!” seru Jongin sambil memandang lurus ke depan. “Dekat sungai enak, ya!” ujarnya. “Rotinya baru dipanggang. Masih hangat, lho.” lanjutnya sambil memberiku roti. Aku menatap Jongin dengan perasaan berdebar-debar. Sementara Jongin tersenyum seperti tidak ada yang terjadi.

Kim Jongin… meski kadang iseng, dia juga baik hati. Aku suka sekali.

“Maaf… dan terima kasih.” ujarku pelan sambil menggigit roti. “Kenapa?”

Sejak kejadian golden week, aku merasa dia lebih perhatian. Aku juga merasa dia mulai mendekat… mungkin aku bisa menanyakannya, tentang perasaannya padaku?

“Hm?”

Aku tersenyum, “Aniya.”

Aku berpikir sejenak. “Eng… anu…”

“Apa?”

Ternyata malu rasanya!

“Engg… eng… Jongin-ssi… apa kamu…”

“Ya?” tiba-tiba saja Jongin mendekatkan dirinya padaku. De-dekat sekali!

“Apa? Apa katamu?” Jongin terus saja bertanya dengan senyum menawannya itu, mana dia sangat dekat lagi! Aku deg-degan tahu!

Jongin tertawa melihatku yang wajahnya sudah pasti memerah. Lagi-lagi aku dikerjai!

“Lho? Soojungie!”

Aku dan Jongin menoleh dan menemukan Taehyun sedang memegangi sepedanya. “Uwa! Ada Jongin juga!”

“Tae-Taehyun!” aku beranjak dari dudukku dan menghampirinya. “Soojungie tinggal di sekitar sini? Aku juga, cuma naik sepeda.”

“Oh, begitu.”

“Ada kumpul-kumpul di rumahku. Jiyoungie kuundang, tapi nggak bisa datang. Aku ditolak!”

Aku bingung harus merespon apa, jadi hanya kata, “Oh.” yang keluar dari mulutku, disertai tawa kecil yang kupaksakan. “Soojungie mau ikut? Jongin tinggal saja.”

Aku langsung menggeleng-geleng tanpa berpikir dulu. “Yaah, sayang.”

“Taehyun-ah! Ayo!”

“Ah, ne ne!” Taehyun menoleh padaku. “Sampai ketemu di sekolah! Kapan-kapan main sama aku, ya!” serunya sambil berlalu pergi.

Setelah kepergiannya, suasana yang semula ramai kembali hening. Aku menoleh pada Jongin. Kira-kira… apa yang dipikirkannya saat aku mengobrol dengan Taehyun ya?

“Ah, Taehyun akrab dengan Jiyoung, temanku. Kami sekelas, jadi sering ngobrol. Dia akrab sama semua cewek.” jelasku panjang lebar. Jongin mengangguk. “Ooh.”

Eoh?

Hanya itu? Ha-ha-ha. Apa sih yang kau harapkan Soojung? Dia nggak peduli.

.

“Seru! Seperti piknik!” seru Jongin saat kami sudah sampai di depan rumahku. “Iya!”

“Tapi lebih asyik kalau bawa bekal, ya.”

Eoh!!!

Dia ingin bekal!

“A-aku akan buatkan!” jawabku semangat. “Eh?”

“Be-bekal!!ㅡ”

“Aku pulang.”

“Oh, Yeoreum-ah. Baru pulang, ya.”

“Minggir, dong.” aku menyingkir dari depan pintu dan mempersilakan Yeoreum masuk. Seperti biasa, anak itu selalu saja memancarkan aura-aura seram dan judes.

“Dia itu,” kata Yeoreum tiba-tiba sambil menoleh. “Sama sekali nggak bisa masak!”

Aku ternganga mendengar pernyataan Yeoreum yang mematikan. Bisa habis aku dimata Jongin!

AAAH!! JUNG YEOREUM!!!

Valentine tahun ini, dia hampir membuat orang mati.” lanjut Yeoreum cuek. Sementara aku hanya bisa gigit bibir. “Yeo-Yeoreum!” sementara Yeoreum melenggang pergi masuk ke rumah.

Aku menoleh dan melihat ekspresi Jongin yang kosong. “Eh, anu, Jongin-ssi. Anu.. aku akan berlatih.”

Jongin sepertinya melamun hingga dia baru menjawab pertanyaanku beberapa detik kemudian. “Eh? Ah iya.”

Jongin tersenyum tulus. “Aku tunggu hasilnya, deh.” aku tersenyum lega.

Berarti… ada kesempatan?

Aku melambaikan tanganku pada Jongin.

Aku harus berlatih!

.

.

.

“Jadi, aku yang cicip makanan uji coba ini?” tanya Jiyoung dengan tangan terlipat, menginterogasiku. Kami berdua sedang berada di kelas, di mejaku. Aku mengeluarkan kotak bekal dan membukanya. Jiyoung menatap bekalku dengan tatapan ngeri.

“A-Aku mohon.” jawabku memelas. Jiyoung menambil sumpit dan menusukkannya pada telur dadar gulung yang kubuat. “Apa boleh buat!”

Entah datang dari mana, tiba-tiba saja Taehyun datang dan mengambil telur dadar gulung buatanku. “Wah! Apa ini? Soojungie yang buat? Aku makan ya!”

Terlambat. Aku tidak bisa mencegah Taehyun memakan makananku. Masa bodohlah!

Saat Taehyun dan Jiyoung memasukkan makananku ke mulutnya. Wajah mereka berubah total. Mereka langsung meletakkan telapak mereka di mulut, seakan-akan ingin muntahㅡmungkin memang ingin muntah.

“Se-segitu nggak enaknya?!” teriakku shock. Kupikir makananku kali ini tidak akan menimbulkan reaksi semacam Taehyun dan Jiyoung barusan tunjukkan. Aku menundukkan kepalaku pasrah. Mereka benar-benar tampak sekarat.

“Untuk kapan…?” tanya Jiyoung. “Seminggu lagi.” jawabku pelan. Jiyoung menatapku dengan tatapan kasihan. “Bikin yang layak dimakan manusia, dong.”

.

Sampai di rumah pun aku tetap berlatih sampai malam. “Kamu tidak terampil, beda dengan Yeoreum.” ujar Ibu sambil mengawasku menggoreng telur. “Ah! Eomma, eotteohke? Gosong.” kataku sedih. Huhu… Kenapa aku terlahir tanpa kemampuan apa pun?

“Percuma saja latihan segala.” aku menoleh dan menemukan Yeoreum baru keluar dari kamarnya. “Masakan nggak enak, cuma bikin repot saja, tahu!” serunya jutek. Aku terbengong mendengar perkataan Yeoreum.

Adikku benar-benar kejam…

“Hei, gosong tuh!” seru Ibu. Sementara di otakku hanya berputar-putar kalimat, “Bikin repot!”

“Bikin repot!”

“Bikin repot!!”

.

.

.

Author’s POV

Soojung menghela napas berat sambil menatap bekalnya nanar. “Memang bikin repot ya.” ujar Soojung pasrah. “Aku juga repot nih!” seru Jiyoung kesal. “Yah, walaupun sudah mendingan sih.” lanjut Jiyoun lebih tenang. “Maaf, deh.” jawab Soojung lesu. “Jongin pasti mau makan, kok. Rasanya udah lumayan.”

“Waktu kubilang mau membuatnya, kupikir dia tulus.” kata Soojung sambil memajukan bibirnya. “Dia iseng lagi, kali.” kata Jiyoung sedikit kesal. Jiyoung merasa kesal setiap kali Soojung selalu begitu karena Jongin. Tapi mau bagaimana lagi? Kalian yang pernah jatuh cinta pasti pernah merasakannya kan? Iya kan? T^T

“Ah, itu orangnya!” seru Jiyoung sambil menunjuk Jongin yang berada 3 meter di depan mereka. “Ah, Soojung-ssi. Pagi.” sapa Jongin ramah, seperti biasa. “Eh, iya, pagi.” balas Soojung dengan gugup. “Ng… Aku duluan ya!” kemudian Jiyoung pergi disertai tatapan heran dari Jongin. Suasana mendadak aneh begitu Jiyoung meninggalkan Soojung dan Jongin.

Soojung menoleh pada Soojung sambil tersenyum. “Ada perlu apa?”

Eoh, aniya! Buru-buru ya?” tanya Soojung, “Soalnya… hari ini Jongin-ssi nggak ada les, mu-mungkin kita bisa bersama sebentar.” usul Soojung dengan wajah sepanas air rebus. Jantungnya berdegup dengan keras. Jongin tersenyum kecil dengan suara tawanya yang semakin lama semakin terasa enak di telinga Soojung. Huh, dia iseng lagi! Kenapa sih dia selalu menertawaiku? Tapi nggak apa-apa sih… aku tetap senang. Hehe, pikir Soojung.

“Soojungie~~ Pagiii!” seseorang tiba-tiba datang dan menyapa Soojung.

Eoh, Taehyun.” sapa Soojung saat melihat Taehyun yang telihat sangat ceria. “Hari ini bekalnya enak nggak?” tanya Taehyun. Soojung terlihat ragu untuk menjawab tetapi ia tetap menjawab. “Gimana ya? Ehe.”

“Aku tunggu, lho.

Jongin yang sedari tadi diam sejak Taehyun datang, mengerutkan keningnya heran. “Bekal?” Soojung menoleh pada Jongin

“Ah!~ Rupanya kau tidak tahu ya, Jongin? Si Soojung sedang latihan masak. Belum pernah makan? Hahaha. Yang iniㅡ”

“Tae-Taehyun!” Soojung menghentikan Taehyun sebelum dia membeberkan semua rasa bekal Soojung. “Ba-baru latihan, kok! Belum bisa kuberikan padamu! Masih percobaan! Yang sekarangㅡ” Soojung menoleh pada Jongin dan terkejut melihat ekspresi wajahnya yang baru pertama kali ini ia lihat.

“Kalau begitu, aku tidak akan makan dulu.” katanya sambil tersenyum. Tapi senyum itu… bukan Jongin. Bibirnya tersenyum, tapi matanya tampak dingin. “Aku ke kelas dulu, ya.”

Jongin… apa itu? Meski tersenyum, wajahnya tampak tak senang. 

Punggung Jongin semakin menjauh, semakin terlihat dingin. Soojung pun berlari mengejarnya. Soojung tahu, walaupun bekalnya tidak enak, Jongin pasti akan memakannya dengan senyuman.

Jongin membalikkan badannya. “Aku… menyerah.” ucap Soojung sambil menundukkan kepala. “Kalau menurutmu nggak enak, aku nggak akan senang.”

“Aku nggak mau Jongin nggak ingin memakannya.” udara seketika disekelilingi udara yang hening.

“Apa aku pernah bilang begitu?” tanya Jongin. Soojung mengangkat wajahnya. “Katamu, ‘nggak akan makan dulu’ kan?” katanya sedih. Soojung merasa seperti telah ditolak beribu-ribu kali oleh Jongin.

“Eh? Aah..”

Jongin meletakkan tangan kirinya di dagu. Bingung harus memulai bicara dari mana. Namun, saat ia melihat wajah Soojung yang menunduk dengan semburat-semburat merah dan wajah sedih, Jongin langsung menutup bibirnya dengan punggung tangannya. Tanpa bisa ditahan pun pipinya memerah.

“Soojung-ssi.” panggil Jongin. Soojung mengangkat wajahnya. “Apa bekal buatanmu masih ada?” tanya Jongin. “Ada.” jawab Soojung. “Keluarkan.”

“EEEH?!” seru Soojung kaget dan sontak memegang tasnya dengan erat. Soojung menggeleng-geleng. “Ayo cepat.” Soojung masih terlihat ragu namun akhirnya tetap mengeluarkan bekalnya dan memberikannya pada Jongin dengan wajah khawatir.

Jongin melihat bekal Soojung dan memakan telur gulung buatan Soojung. Soojung melihat Jongin dengan waswas saat Jongin memakan bekalnya. “Eo-eottaeyo?” tanya Soojung ragu. Jongin kembali memegang dagunya sambil terus mengunyah. “Hm, kau masih harus latihan.” kata Jongin sambil menilai-nilai makanan di mulutnya. “Tuh, kan!”

Soojung menunduk lesu. “Yang pertama lebih parah dari ini. Aku minta Jiyoung mencobanya, katanya nggak layak dimakan manusia.” katanya. Kata-kata Soojung barusan membuat Jongin tertawa terbahak-bahak.

“Hahahaha! Aku mengerti. Jadi, Taehyun makan itu?”

Eoh Taehyun? Iya. Dia ambil sendiri.” jawab Soojung heran. Sementara Jongin masih terus tertawa. “Siapa yang mati saat valentine?” tanya Jongin. “Ah, itu… Aku membuatkan Ayah kue. Tapi masih hidup kok!”

“Ayahmu? Hahaha.”

Jongin terus tertawa hingga membuat Soojung bingung. Saat Jongin berhenti, ia menatap Soojung dengan senyum menawannya. “Buatkan bekalnya, ya. Aku tunggu.” ucapnya, lalu melanjutkan. “Soojung-ssi, aku baru sadar. Ternyata, sifat posesifku kuat, lho.”

Soojung membulatkan matanya. Jongin tersenyum lalu melenggang pergi. “Eh…?” Soojung tidak bisa berkata-kata selain wajahnya yang memanas dan memerah.

.

.

.

Teeng Teeng Teeng

Soojung berdiri di samping loker Jongin ketika Jongin datang dengan tasnya. “Annyeong, Soojung-ssi. Mian, rapatnya lama.” Soojung tersenyum lalu membetulkan letak tasnya. “Gwaenchanha.”

“Apa tidak apa-apa mengantarku pulang?” tanya Soojung begitu mereka berdua sudah di luar sekolah. “Kan jadi berputar jauh.”

“Soojung-ssi terganggu?” tanya Jongin. “A-aniyo. Aku malahan sangat sangat senang!” jawab Soojung dengan wajah memerah. “Geuraeyo? Baguslah, hehe.”

Soojung menduduk, pikirannya melayang ke kejadian tadi pagi. “Sifat posesifku kuat, lho.”

Jangan-jangan Jongin-ssi…. pikir Soojung.

“Ng, Jongin-ssi. Yang kau bilang tadi pagi itu… ma-maksudnya apa ya?” tanya Soojung malu-malu. Jongin menoleh pada Soojung dan menutup bibirnya dengan punggung tangannya. “Ah, itu.” walau samar, bisa terlihat semburat merah dari pipi Jongin. Jongin mengantungi tangannya ke saku celana dan tersenyum. “Silakan bayangkan sendiri, ya.”

“Eh?”

Kaja. Keretanya datang. Palli!”

Sementara Jongin sudah pergi, Soojung melengkungkan bibirnya ke bawah. “Itu benar-benar bikin bingung, tahu, Jongiiin!”

.

.

.

Ciiit

Taehyun memberhentikan sepedanya di depan rumah bertuliskan marga “Jung”. “Wah! Ternyata dekat sekali kalau lewat jembatan!” seru Taehyun. “Ada perlu apa datang kemari?” tanya seseorang. Taehyun menoleh dan langsung terpesona dengan kecantikan yang terpancar dari Yeoreum sampai-sampai ia menjatuhkan sepedanya.

Waaaahhhhh manisnya!!! Daebaaak! pikir Taehyun.

“Sepedamu jatuh, tuh! Kau teman kakakku?” tanya Yeoreum. “Eoh?”

“Seragamnya sama.” tunjuk Yeoreum. “Aaah! Majda, majda*! Aku teman kakakmu! Aku Nam Taehyun! Waah! Kalian adik kakak manis-manis ya! Soojungie sudah pulang? Tadinya aku ingin mengajaknya kencan, tapi sama kamu saja ya! Mau kencan denganku, kan??” Taehyun meraih tangan Yeoreum dengan wajah gembira sedangkan Yeoreum melihat tangannya dengan horor. Yeoreum segera melepaskan tangan Taehyun dengan wajah kesal. “Kayaknya, kakakku sudah punya pacar, tuh!” seru Yeoreum.

(*re: matta)

Pulang sana! Pulang! seru Yeoreum kesal dalam hati.

“Ha? Punya pacar? Si Jongin? Bukan, kok! Itu masih masa percobaan!” seru Taehyun. Yeoreum yang mendengarnya membulatkan matanya. “Masa percobaan?”

“Iya, Soojungie yang bilang suka, tapi Jongin masih menggantungnya. Jahatkan ya? Kalau aku sih tulus sama cewek.”

Yeoreum hanya diam. Mimik wajahnya berubah. “Jadi… masih ada kesempatan, dong.” ujarnya pelan, tapi cukup didengar oleh Taehyun. “Yup! Masih ada kesempatanㅡeh? Maksudmu apa? Jangan-janganㅡ”

“Yeoreum-ah?” Soojung memanggil Yeoreum yang entah kenapa bisa bersama Taehyun. Jongin yang berdiri di samping Soojung melihat Yeoreum dengan intens. Semenjak kejadian itu, ia punya firasat buruk.

“Ah!” seru Taehyun.

“Soojungie sudah pulang! Aku main ke sini. Kok ada Jongin lagi sih?!” protes Taehyun sambil menatap Jongin tajam. “Tae-Taehyunㅡ”

“Omong-omong, aku boleh masuk rumahmu, gak?ㅡ”

“Mengganggu saja!” geram Yeoreum dengan wajah super galak. Taehyun langsung diam sambil menatap Yeoreum ngeri. “Sepertinya repot ya. Sampai sini saja.” kata Jongin. Ia melambaikan tangannya sambil melangkah menjauh. “Dah! Sampai besok, ya.” Soojung menundukkan wajahnya sedih. Ia sebenarnya ingin bersama lebih lama dengan Jongin. Tanpa disadari, Yeoreum pun melihat perubahan wajah kakaknya.

“Oh iya.” Jongin berhenti dan membalikkan badannya. “Soojung-ssi, lain kali main ke rumahku ya.” ajak Jongin sambil tersenyum. Semburat merah itu semakin terlihat jelas di pipi Soojung. “Eoh?”

“Aku pernah bertamu ke rumahmu kan? Kalau segan, nggak juga nggak apa-apa.” Jongin melanjutkan. “Orang tuaku pulang larut, jadi cuma ada kita berdua saja.” Mata Soojung, Yeoreum dan Taehyun membulat. “EEHH?” seru Soojung kaget.

NGGAK BOLEH!” seru seseorang. Semua orang menoleh pada Yeoreum yang ternyata yang berteriak tadi. Yeoreum menelan ludahnya dan berdeham. “Ng, maksudku, aku juga boleh ikut?” tanya Yeoreum. “EH? Kalau begitu aku juga ikut!” seru Taehyun dengan semangat. “Hm… Gimana ya?” Jongin berpikir sejenak.

“Ok! Baiklah, kalian semua boleh datang.”

Soojung memanyunkan bibirnya. Tidak apa deh, yang penting aku sudah diundang ke rumahnya.

.

.

.

“Waaah!” Soojung dan yang lainnya terpana begitu memasuki rumah Jongin yang ternyata merupakan mansion mewah. “Mansion yang indah!” seru Soojung takjub. Soojung dan Taehyun heboh melihat jendela besar yang menyuguhkan kota Seoul. “Silakan duduk, aku akan buatkan teh.” kata Jongin. “Biar kubantu.” kata Yeoreum sambil tersenyum. “Eh! Aku juga mau bantu!” seru Soojung. “Soojung-ssi bantu aku, Yereoum-ssi santai saja di sini.” kata Jongin.

Wajah Yeoreum merengut kesal. Tidak ada yang melihat perubahan wajah Yeoreum itu saat Jongin dan Soojung pergi ke dapur.

“Soojung-ssi, kau dan adikmu akrab ya?” tanya Jongin sambil memperhatikan Soojung mengaduk teh. “Eh? Masa? Kami biasa saja, kok.”

“Tapi, dia mau menemanimu ke sini.” kata Jongin sambil bersender pada counter dapur. “Oh, ini sedang tumben-tumbenan saja. Tapi, kalau terlihat begitu, aku senang.” ujar Soojung sambil tersenyum. Ia kembali mengaduk teh dan melanjutkan. “Yeoreum itu mandiri. Aku sering dimarahi dia. Aku khawatir dia membenciku.” kata Soojung. “Seandainya aku bisa jadi kakak yang baik, dia pasti akan tergantung padaku.”

Jongin terpana mendengar ucapan Soojung. “Kau suka adikmu, ya.” Soojung mengangguk. “Eung, neomu joha!”

“Eh, toilet di mana?” tanya Taehyun yang melongokkan kepalanya di ambang pintu. “Keluar dari koridor, sebelah kanan.” ujar Jongin. “Ok! Sebentar ya.”

Soojung dan Jongin kembali ke ruang tamu sambil membawa teh dan beberapa camilan. “Main game, yuk.” ajak Jongin sambil meletakkan beberapa CD play station. “Waaah, lengkap sekali.” kata Soojung sambil memotong kecil kue bolu untuk dimakannya. Saat mau memasukkan kue bolu tersebut, Soojung malah menjatuhkannya dan sekarang bajunya dinodai coklat.

“Ah, yaah!”

Nggak apa-apa?” tanya Jongin. “Iya, cuma kotor sedikit. Maaf, aku ke toilet dulu.” Soojung bangkit dari duduknya dan menuju toilet. Setelah selesai menghilangkan noda di bajunya, Soojung segera keluar dan bertemu dengan Taehyun yang sedang mengintip-intip ke suatu ruangan.

“Taehyun, sedang apa?” tanya Soojung bingung. “Psstt! Aku sedang menyelidiki.” ujar Taehyun sambil berbisik. “Eoh? Ini kamar Jongin, kan?” tanya Soojung bingung. “Sekarang, akan kutunjukkan yang sebenarnya.” Taehyun terkekeh. “Sebenarnya apa?”

“Si Jongin pasti menyembunyikan beberapa majalah yadong.”

“EEHH?! Ti-tidak mungkin! Kim Jongin bukan orang seperti itu!!” seru Soojung kesal. “Pssst! Pasti, deh! Dia kan cowok.”

“Duuh, Soojungie dan Yeoreumie berkhayal berlebihan soal Jongin!”

“Aku nggak… Eh? Yeoreumie?”

Taehyun segera menutup mulutnya rapat. “…Gawat.”

Taehyun menghela napasnya. “Soojungie, aku berat bilangnya. Tapi, mungkin… Yeoreumie suka Jongin.”

To be continued

HEHEHE SEONMUL!!! Lagi mood update jadi update dehh kkk~ Semoga suka ya! 😀

Jangan lupa baca manga aslinya 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s