Love Button [Part 5]

chapter 5

Love Button

Storyline by Usami Maki

Remake by cnboicegirl

PG-15

A romantic comedy fanfiction

Chapter Five

.

.

.

“Soojungie, aku berat bilangnya. Tapi, mungkin… Yeoreumie suka Jongin.”  

Soojung menatap Taehyun kosong. Pikirannya dipenuhi dengan ketidakpercayaan. Dia tidak mungkin bersaing dengan adiknya, tapi dia juga sangat menyukai Jongin.

Soojung pergi dari hadapan Taehyun, hendak memastikan apa perkataan Taehyun benar. Dari belakang, Taehyun memanggil-manggil Soojung agar lebih tenang.

Di sisi lain, Jongin dan Yeoreum yang hanya berdua di ruang tamu sedari tadi hanya diam. Yeoreum tersenyum. Dia beranjak dari sofa sambil memanggil Jongin. “Jongin.” katanya. Ia mendekati Jongin dengan senyum yang sama seperti yang dilihat Jongin waktu itu di bimbingan belajar. “Aku sudah dengar lho. Sebenarnya, kau belum pacaran dengannya.” Yeoreum mengatakan itu dengan unsur jenaka yang sangat kentara. Jongin hanya diam, tidak sempat merespon apapun karena tangan Yeoreum yang tiba-tiba mengelus pipinya. “Kau ini lumayan jahat juga, kan?”

“Eh! Soojungie!”

Suara pintu terbuka dengan kencang membuat keduanya menoleh. Jongin tampak terkejut sedangkan Yeoreum hanya menatap kakaknya santai. Soojung membulatkan matanya melihat Yeoreum menyentuh pipi Jongin. “Omo! Sesange!” seru Taehyun terkejut.

Soojung langsung menundukkan kepalanya, tubuhnya bergetar menahan tangis, lalu tersenyum salah tingkah. “Mi-mian.” lalu menutup pintu dan bersandar pada pintu dengan tatapan kosong. “Soo-Soojungie! Kok malah minta maaf? Pukul saja si Jongin! Mau kubantu?” tanya Taehyun dengan emosi menggebu-gebu.

Soojung terus menatap lantai. “Aku nggak tahu.” jawabnya. Tiba-tiba air mata menetes, jatuh di sela jemari kakinya. “Aku-Aku, kepalaku penuh.” ujarnya disertai dengan tangisan yang begitu deras. Pintu di belakangnya mendadak terbuka, Jongin segera menarik Soojung menuju kamarnya.

“EH! Jongin! Mau ke mana?! Itu kamarmu, kan?!”

Jongin menutup pintu dengan tangan kiri yang merangkul Soojung. Soojung mengangkat wajahnya, melihat senyuman manis Jongin. “Kalau agak kasar, maaf ya.”

Eoh?”

Jongin segera mendorong tubuh Soojung ke kasur dengan tangan kanan yang sedikit menahan tubuh Soojung agar tidak terbanting terlalu keras.

“KYAAAA!”

Teriakan Soojung membuat Yeoreum dan Taehyun terkejut setengah mati. Taehyun berlari menuju pintu kamar Jongin sambil menggedor-gedornya. “YAAAAKK!!! Apa yang kau lakukan, brengsek??!!!”

Yeoreum menyingkirkan Taehyun lalu segera mendobrak pintu tersebut.

“Ah!” seru Jongin.

Taehyun dan Yeoreum sangat terkejut mendapati Soojung tengah berada di bawah tubuh Jongin dengan tangan Jongin yang menahan tubuh Soojung. “Kau ini! Apa-apaan?! Apa yang kau lakukan pada kakakku?!!” Yeoreum segera memukul Jongin yang segera kesakitan dan mendorongnya hingga jatuh dari kasur.

Yeoreum menyentuh kepala Soojung. “Gwaenchanha? Diapakan sama dia?!” seru Yeoreum dengan perhatian yang jarang diterima Soojung. “Eh, aniya.” ujar Soojung. “Mwo?”

“Yeoreum-ah, kenapa…”

“Dia, mengkhawatirkanmu Soojung-ssi.” ujar Jongin masih mengusap-usap kepalanya yang dipukul Yeoreum. “Akulah yang sebenarnya dibenci oleh Yeoreum. Iya, kan?” tanya Jongin dengan senyumnya. Yeoreum membuang muka dengan wajah memerah karena merasa ketahuan. “Eh?” tanya Soojung bingung. “Dia pikir aku mempermainkanmu. Jadi dia ingin memisahkan kita, apapun caranya.” jelas Jongin. “Tapi, kenapa?” tanya Soojung masih tidak mengerti. “Karena kau kakak yang berharga baginya,” Jongin menoleh pada Yeoreum. “Benar, kan?” tanyanya memastikan dengan senyum yang menurut Yeoreum sangat tidak tulus. “Benar begitu, Yeoreum-ah?” tanya Soojung dengan wajah malu-malu senang.

Wajah Yeoreum memerah karena kesal. “MA-MATI SAJA KAU!!” seru Yeoreum kesal lalu pergi dari kamar Jongin. Soojung terkejut dengan perkataan Yeoreum yang begitu kasar. “Uh… Mati…” ujar Soojung sambil menundukkan kepalanya. Jongin tertawa. “Tenang saja, dia menyumpahiku kok.”

Aah.. syukurlah, ternyata Yeoreum tidak jadi sainganku, pikir Soojung sambil menghela napas. “Eh, omong-omong,” Jongin merangkak mendekatkan dirinya ke Soojung. “Kita tinggal berdua, lho.” katanya dengan senyum khasnya. Soojung menelan ludah, “Ky-KYAA!”

“Hahaha! Maaf-maaf bercanda.”

Sementara itu Taehyun yang mengejar Yeoreum kebingungan karena Yeoreum pergi begitu cepat dan langsung menghilang.

.

.

.

Soojung’s POV

“Aku pulang.” aku meletakkan sepatuku pada tempatnya dan langsung bertemu dengan Yeoreum yang masih menampilkan wajah super kesal. “Eh, Yeoreum sudah pulang. Yeoreum langsung pergi, Jongin juga khawatir, lho.”

Yeoreum langsung menatapku dengan tajam sampai samar-samar kudengar geraman marahnya. Hiiiy! Serem! Saat seperti ini lebih baik nggak mengajak Yeoreum ngobrol. Aku kabur saja ke kamar!

“Hoi! Tunggu!”

O-ow.

Aku menoleh dengan takut. Yeoreum melipat tangannya di depan dada. “Kau sepertinya salah paham. Kau tertarik pada cowok yang nggak baik! Dan itu bakal bikin repot kami, keluargamu!” seru Yeoreum kesal. “Bukan karena kau kakak yang berharga! Cih! Maldo andwae!”

Berharga?

Aku tersenyum begitu mendengar kata-kata itu. Hihihi. “Aku senang Yeoreum mengkhawatirkanku, tapi, aku benar-benar baik-baik saja kok! Jeongmal, jinjja!” kataku meyakinkan. Yeoreum kembali memelototiku. “Aku nggak khawatir!! Dasar lemot!!”

“Kau ini tipe yang mudah ditipu! Lugu! Mudah terlena! Aku nggak akan kaget kalau kelak kau tertipu dan terperdaya!” seruan Yeoreum benar-benar menamparku. Uuuh… Kejam sekali… Memangnya aku selugu itu ya?

“Dari yang aku lihat, si Jongin itu berhati jahat! Kita nggak tahu pikiran di balik wajah senyumnya itu! Sangat mencurigakan!”

“Mencurigakan? Jongin-ssi itu tulus, kok!” seruku tidak terima. “Orang yang tulus nggak akan ada ‘masa percobaan’, pasti langsung pacaran!” JLEB! Itu benar-benar menusukku!!

Aku rasanya ingin marah!!

“Bu-bukan begitu!! Hanya saja, Jongin-ssi belum punya perasaan suka padaku!” seruku meyakinkan. Yeoreum diam dengan wajah melongo. “Berarti kau nggak bisa mengaturnya, dong. Cih, payah.” Yeoreum meninggalkanku sendiri yang sebenarnya mau tidak mau setuju dengan perkataannya.

Author’s POV

Soojung memasuki kamarnya dengan perasaan kesal. Ia mengambil bantalnya lalu memukul-mukulkan bantal itu di kasur. “Uuuh! Yeoreum benar-benar kejam! Aku juga nggak mau terus-terusan masa percobaan, tahu!” seru Soojung kesal lalu membenamkan wajahnya di bantal.

Rurururu

Soojung segera mengangkat wajahnya dan mengambil ponselnya. “Ki-Kim Jongin!” Ia segera mengangkat telepon itu dengan perasaan super senang. “Yeo-yeoboseyo.” sapa Soojung. “Ne, yeoboseyo. Apa kau dan adikmu baik-baik saja?” tanya Jongin yang sedang sibuk dengan tugasnya di laptop. Di seberang, Soojung menjawab. “I-iya, seperti biasa saja kok.”

Jongin diam sejenak. “Mungkin, kau masih kepikiran tentang hubunganku dan adikmu.”

“Eoh?”

“Soojung-ssi.. tidak apa-apa, kan?” tanya Jongin dengan wajah yang diam-diam mengeluarkan semburat merah.

Soojung terpaku sejenak. Di-dia… mengkhawatirkan aku! seru Soojung girang dalam hati.

Nggak nangis kan?” tanya Jongin. “Eh? Nggak kok!” jawab Soojung dengan tangan yang semakin erat memeluk bantalnya. “Jo-Jongin-ssi.” panggil Soojung gugup. “A-aku akan lebih berusaha lagi, su-su-supaya Jongin-ssi menyukaiku!”

Jongin terpaku sejenak. Tidak menyangka Soojung akan mengatakan hal itu. Jongin menutup mulutnya dengan punggung tangan kanannya, hal yang akan dia lakukan jika ia merasa malu. “Geuraeyo? Baiklah.”

“Selamat malam.”

Setelah Soojung memutuskan hubungan teleponnya, Jongin menatap layar ponsel flipnya dengan pipi yang sangat memerah.

Sementara di kamarnya, Soojung berteriak-teriak kepada bantalnya. “Iyaaa! Aku akan lebih berusaha! Hwaiting, Soojung-ah!”

.

.

.

Soojung’s POV

YAAAP! Aku akan lebih berusaha!! Tapi… aku harus apa ya?

Eoh, Soojung-ah. Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Jiyoung bingung begitu masuk ke sekolah dan melihatku dengan tatapan aneh. Ya… memang sebenarnya aku sedang melakukan hal aneh. Kau tahu, seperti gerakan menyemangati diri sendiri? (Dengan gaya lebay)

Aku hanya tertawa lalu melanjutkan gerakan semangatku. Namun, tiba-tiba seorang perempuan yang (sangat) cantik menghampiriku, si perempuan sombong itu, lho. “Hei, aku mau bicara. Ayo ikut aku.”

Aku mematung. Kyaaa, rasa ini… rasanya aku pernah merasakannya!

Aku mengikutinya sampai akhirnya kami berhenti di halaman belakang sekolah. “Kau ini! Lancang sekali berpacaran dengan Kim Jongin! Tapi masih ‘masa percobaan’ ya?” Aku tidak sempat menjawab karena detik berikutnya ia kembali berbicara. “Aneh! Pernah ditolak tapi bisa pacaran! Kalau cuma ‘masa percobaan’, sudah cukupkan?”

Aku yang sedari tidak berani melihat wajahnya pun mengangkat wajahku. “Eoh?”

“Sudah cukup merasakan ‘masa percobaan’ kan? Gantian, ya.” ujarnya. MWOOO??? Gantian????

Ia membalikkan badannya lalu tersenyum sinis. “Jangan ganggu aku, ya!”

A-Andwae. Eotteohke??

Aku yakin dia anak kelas khusus, sekelas dengan Kim Jongin!

Saat istirahat, aku diam-diam pergi ke kelas Jongin dan mengintip dari pintu belakang. Uwaaa. Benar. Itu dia, duduknya sebelah Jongin! Enaknya sekelas. Huhu, bisa tanya-tanya soal ke Jongin. Bahu mereka berdempetan! Iri sekaliii!

Aku terduduk di sebelah pintu sambil mendengarkan percakapan mereka seputar pelajaran. “Ini caranya harus dikali, jadi a per m kuadrat plus satu dikali dengan p akar 3 laluㅡ”

Aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka katakan!!!

Lho? Soojung-ssi?” aku kaget setengah mati ketika tiba-tiba Jongin memanggilku. Jongin menghampiriku sementara aku langsung pura-pura mencari sesuatu di lantai. “Kenapa duduk di situ?” tanya Jongin. “Ah! Ini, lensa kontakku jatuh! Hehe.” kataku sambil melanjutkan ‘akting’ku. “Kau pakai lensa?” tanya Jongin. Aku menoleh pada perempuan sombong itu dengan tatapan horor ketika dia memelototiku.

KYAAA! Aku kabur saja!

.

“Oh, perempuan itu.” Jiyoung meletakkan tangannya di dagu. “Gayanya seperti tuan putri. Dia anak direktur grup super market ternama.” jelas Jiyoung. “Oh! Aku tahu! Na Haeryung, kan?” seru Sohyun. “Ibunya mantan model, kan?” tanya Sohyun pada Jiyoung. “Iya, dia cantik tapi menyebalkan!”

Uuh.. bahaya. Dia cantik, pintar dan anak direktur pula! Aku harus melakukan sesuatu!!

.

“Bekal?” tanya Jongin. Aku mengangguk. “I-iya, besok boleh aku buatkan?” tanyaku. “Wah, akhirnya aku udah boleh makan ya? Waktu itu kau menundakannya kan.”

Uh.. soalnya…

“Baiklah.” aku mendongakkan kepalaku dan melihat senyum manis Jongin. Kyaaa! Jantungku benar-benar berdetak dengan kencang. “Kuharap enak, ya.” lanjutnya lalu pergi meninggalkanku.

YES, BERHASIL!! Aku harus berusaha dengan keras!! Apa yang akan membuat Jongin senang ya? Hm… ah iya! Aku tahu!

.

“Wow, pemandangannya sangat indah.” kata Jongin saat kami sudah sampai di atap sekolah. Aku mengangguk senang. “Iya!”

Aku berjalan mendahului Jongin dan mempersiapkan ‘ide cemerlang’ku. Setelah selesai aku berbalik dan melihat Jongin yang seakan tak bisa berkata-kata. Ehehehe, aku makin senang deh!

“Taraa! Konsep kali ini adalah piknik!” seruku. Aku sudah menggelar taplak piknik dengan motif kotak-kotak dan sudah meletakkan semua yang kami butuhkan.

“Karena bekalnya untuk berdua, jadi kubuat seperti piknik!” seruku senang. Jongin benar-benar terpaku! Dia lalu tersenyum takjub. “Wah, keren! Ini baru pertama kalinya, lho!” seru Jongin senang.

Berhasil! Dia senang! Dia senaaang!!

Tapi tiba-tiba saja angin yang semula biasa-biasa saja langsung berubah kencang. Sehingga taplak piknik yang di atasnya memang tidak cukup berat langsung menghancurkan susunan bekalku dan taplak itu melayang jatuh ke lapangan sekolah.

“AH! Bekalnya!” seruku. Aku dan Jongin melihat taplak piknikku dengan khawatir. “Gawaat! Jatuh di halaman sekolah.” kataku panik. “Aku akan mengambilnya!” seru Jongin. “Eh? Aku juga ikut!”

“Soojung-ssi bereskan yang itu saja.”

Aku menurut dan langsung membereskan piring-piring dan lainnya. Setelah selesai, aku berlari menyusul Jongin dan menemukan Jongin dan pak guru tengah menjadi pusat perhatian di tengah lapangan.

“Apa-apaan, sih! Kau kan perwakilan siswa baru. Waktu orientasi masalah ponsel, kau tahu peraturan, kan?” omel pak guru. Hatiku sedih melihat Jongin hanya menundukkan kepalanya dan berkata, “Joisonghamnida.”

Pak guru berbalik masih sambil memegang taplak piknikku. “Ini aku simpan.” ujarnya. “Pa-pak guru!” seruku. “Itu, aku yang membawanya.” akuku. Sementara Jongin membisikiku agar tidak usah ikut campur.

Pak guru menghela napasnya. “Aku lelah kalau memarahi kalian. Nanti ambil saja ini.” katanya lalu segera pergi.

Aku menoleh pada Jongin dengan perasaan sangat bersalah. “Ma-maaf, Jongin-ssi.” ucapku tulus. Jongin tersenyum, “Tidak apa-apa. Yuk, bekalnya aman, kan? Kita makan dulu.” ujarnya sambil menyentuh lenganku dengan perasaan kau-tak-perlu-khawatir.

Rasanya aku benar-benar ingin menangis. Jongin begitu baik padaku. Tapi aku selalu merepotkannya.

.

“Kalau mau piknik, saat liburan!” seru pak guru saat aku mau mengambil taplak piknikku. “Maaf..”

Aku keluar dari ruang guru dan melihat si Haeryung berdiri di tengah-tengah lorong yang sepi. “Hae-Haeryung-ssi.”

“Lihat yang telah kau perbuat! Gara-gara kau, penilaian guru-guru terhadap Jongin pasti turun. Dia itu siswa unggulan, punya impian melanjutkan sekolahnya. Tahu nggak, kau telah menganggu masa depannya?!” serunya dengan tampang marah. Aku hanya diam. Aku sadar betul, aku telah merepotkannya. “Kalau hanya bisa menghalangi langkahnya, menjauh saja!”

Aku menundukkan kepala. “A-aku..”
“Soojung-ssi!”

Aku menoleh dan menekukan Jongin sedang berjalan ke arahku dan Haeryung. “Kau ambil taplaknya sendirian? Padahal aku mau ikut.” ujarnya. “Jonginㅡ”

“Jongin.” perkataanku dipotong oleh Haeryung. “Mau nggak pacaran denganku? ‘Masa percobaan’ dulu nggak masalah.”

Aku terpaku mendengar perkataan Haeryung yang begitu percaya diri. “Karena dia sudah bilang duluan, aku akan menunggu. Tolong pikirkan, ya.” ucapnya lalu berbalik dan meninggalkan kami berdua.

Aku memperhatikan Haeryung yang pergi menjauh dengan perasaan khawatir.

Aku merasakan Jongin sedang menatapku jadi aku balik menatapnya. Matanya seakan bertanya padaku tentang apa yang harus dia lakukan. Aku mengeratkan peganganku pada taplak.

“Gara-gara kau! Kau menghalangi langkahnya!”

“A-aku, nggak apa-apa kok. Pilihan ada di tangan Jongin-ssi.” ujarku. Aku tidak berani melihat seperti apa ekspresi yang Jongin kenakan saat ini. Diam yang lama sampai akhirnya Jongin membuka suara. “Boleh, nih?” tanyanya. Aku menoleh dengan perasaan tak menentu. Aku tidak menyangka dia akan mengiyakan. Tapi aku juga tidak punya nyali, untuk terus bersamanya. Jongin pergi meninggalkanku sendiri yang hanya bisa menatap punggungnya.

.

Aku menunggu di pintu keluar sekolah. Suara rintik-rintik hujan membuatku menengadah. Ah.. apa yang aku lakukan di sini? Kenapa aku tidak pulang saja dari tadi?

Padahal aku dan Jongin tidak janjian tapi kenapa aku tetap menunggunya…?

Aku segera bersembunyi di balik tembok begitu Jongin datang. Jongin menengadahkan kepalanya dan menampung air hujan dengan tangan kirinya. Ia menghela napas. “Joㅡ”

“Jongin!” aku menoleh dan menemukan Haeryung dengan payung lipat di tangannya. “Kalau nggak bawa payung, bareng aku saja!” serunya. Jongin tidak langsung menjawab. Dalam hati, aku sangat berharap dia menolaknya tapi ternyata dia menerima tawaran Haeryung.

Aku melihat keduanya di bawah naungan payung yang sama. Berjalan menyusuri hujan deras. Berdua. Berdua. Jongin dan… Haeryung. Bukan aku.

Aku…

Aku baru sadar. Ternyata aku egois sekali. Aku yang membiarkan Jongin pergi, tetapi aku juga yang tidak mau Jongin bersama perempuan lain. Aku egois!

“Jongin! Kajima!” seruku sambil berusaha mengejarnya tanpa payung. Jongin dan Haeryung terus berjalan, membuat jarak di antara kami. “Jongin-ssi! Tunggu! JONGIN-SSI!”

BRUK

Kenapa tidak ada yang berjalan mulus? Di saat seperti ini aku malah terjatuh. Aku semakin terlihat konyol. Jongin menoleh dengan tampang terkejut.

“Ahaha! Ya ampun! Sedang apa sih?” tanya Haeryung denga nada sinis.

Aku mengepalkan tanganku dengan kuat. “Ternyata… aku memang suka Jongin-ssi! Aku nggak bisa menyerah.” ujarku sambil menyingkirkan air mata yang terus mengalir.

Maaf. Maaf. Aku egois.

“Iih! Ganggu banget! Jongin dan akuㅡ”

Tiba-tiba Jongin memegang kedua tanganku dan mengangkatku, menyuruhku untuk berdiri.

Ia menoleh, menatap Haeryung. “Yang ingin aku coba, hanya orang ini. Maaf ya, Haeryung.” ucapnya lalu menggandengku pergi meninggalkan Haeryung yang tidak terima dengan ucapan Jongin.

Kami berdua berjalan berdampingan menantang hujan. “Ayo kita berteduh.” ujarnya saat melihat mini market. Kami berteduh di sana sambil memeras baju kami agar tidak terlalu basah.

Hanya… aku saja?

“Wah, kau basah kuyup, kotor juga.” Ia mengambil sapu tangannya dan menggosok-gosokkannya ke rambutku. Aku hanya diam, membiarkan Jongin mengeringkanku.

“Omong-omong, baru kali ini aku dengar.”

Aku menoleh pada Jongin. “Kau bilang ‘suka’.” ujarnya. “Eh, ma-masa sih?” tanyaku sambil menunduk malu. “Iya.” Kim Jongin yang berkata seperti itu, juga terlihat sedikit tersipu.

.

.

.

Author’s POV

“Omong-omong, baru kali ini aku dengar.”

Soojung menoleh pada Jongin. “Kau bilang ‘suka’.” ujarnya. “Eh, ma-masa sih?” tanya Soojung sambil menunduk malu. “Iya.” Kim Jongin yang berkata seperti itu, juga terlihat sedikit tersipu.

Rasanya… aku kok jadi malu, ya… pikir Soojung dalam hati dengan debaran-debaran jantung. “Maaf ya, aku sempat mau pulang duluan.” Soojung mengangkat kepalanya, melihat Jongin. “Sebenarnya terpikir juga, mungkin Soojung-ssi menungguku. Tapi mungkin aku sedikit mau iseng juga.” ujarnya dengan serius. Soojung menundukkan kepalanya lagi. Jangan-jangan… karena perkataanku tadi seolah membolehkannya memilih Haeryung? pikir Soojung dalam hati.

Tangan Jongin yang sedari tadi mengusap kepala Soojung perlahan turun, menyingkirkan sebagian rambut yang menghalangi wajah Soojung. Soojung yang merasakan itu langsung mengangkat wajahnya dan melihat wajah Jongin yang menatapnya serius, dengan semburat-semburat merah yang masih tersisa di wajah tampan tersebut.

Tangan Jongin terus turun, mengusap pipi Soojung dengan lembut. Debaran jantung keduanya semakin cepat. Hingga…

“Ha-HASYUUH!”

Soojung langsung menutupi hidungnya begitu ia merasakan cairan yang ikut terbebas saat ia bersin. Diam yang canggung mendadak pecah begitu Jongin langsung tertawa terbahak-bahak. “Bwahahahaa! Gwaenchanha? Bawa baju ganti? Harus buru-buru pulang sebelum kedinginan.” ujar Jongin lalu melanjutkan, “Sini, aku lap.” sambil membersihkan ingus Soojung dengan sapu tangannya.

Soojung’s POV

UUUH!! Padahal suasananya sudah mendukung!! Aku malah ingusan di depan Kim Jongin! Malu-maluiiin! Bodoh banget sih aku!!

Di perjalanan menuju rumah, aku yang dipayungi oleh Jongin yang MASIH tertawa benar-benar tidak bisa menatap wajahnya. Uuuh bodooh!!

Aku berhenti di depan pagar rumahku lalu berbalik ke arah Jongin, tentu masih tidak berani menatap wajahnya. “Jangan sampai kena flu, ya. Masih punya tisu?” tanya Jongin sambil menyodorkan tisu. Aku tidak merespon sama sekali. Abisnya malu banget sih tadi! Rasanya hal lain yang akan kulakukan bisa berisiko bikin aku tambah malu!

Tapi tiba-tiba kurasakan usapan lembut dari Jongin di puncak kepalaku. “Daah, naeil boja.” ujarnya sambil menjauh dan melambaikan tangan. Uwaaah! Tetap saja dia bersinar-sinar di mataku! Setelah Jongin sudah cukup jauh, aku masuk ke rumah dengan perasaan riang. “Aku pulaaang!~” seruku lalu duduk di teras untuk membuka sepatu. “Wah, ceria sekali.” ujar Ibu. “Oh ya, ada berita bagus untukmu!” seru Ibu. “Eoh? Apa?” tanyaku penasaran. Tumben-tumbenan Ibu memberiku berita.

“Ibu sudah dapat guru privat untukmu!”

Aku melongo. “Guru privat? Maksudnya??” Ibu tertawa. “Kau kan sedih nggak masuk bimbel, dan disarankan lebih cocok dengan guru privat, kan? Dan lagi untukmu, guru ini yang paling cocok! Kang Minhyuk-ssi! Yang dulu tinggal di sebelah kita!” ucapan Ibu bagai neraka untukku.

“Mi-Minhyuk oppa?” tanyaku ngeri. “Iya! Minhyuk oppa, katanya dia kembali ke sini karena sudah kuliah. Dulu kalian dekat sekali, seperti saudara kandung!” seruan Ibu benar-benar membuatku lemas.

Su-surat yang kuberikan kepada Minhyuk oppa

Nggak ada orang lain?!” protesku pada Ibu. “Lho, ini berita bagus, kan? Honornya murah, dan dia akan menjagamu.”

Aduuuh… so-soalnya… Minhyuk oppa itu cinta pertamaku! Dulu saat aku masih kelas 6 SD, aku memberikannya surat cinta! Padahal dia kelas 2 SMA dan jelas saja dia menolakku untuk menjadi pacarnya! Aduuuh! Sekarang dia akan jadi guru privatku? Bagaimana ini…

.
.
.

“Sebentar lagi ujian semester, belajarmu gimana?” tanya Jongin sambil memakan bekalnya. Kami berdua janjian untuk istirahat bersama di tangga menuju atap sekolah. Aku sejujurnya parno saat dia bertanya itu, aku panik soalnya bisa saja nanti ketahuan kalau Minhyuk oppa yang akan mengajarku. “A-aku belajar sendiri.” jawabku gugup. Aduuh aku mau bilang yang sebenarnya ke Jongin, tapi kok berat banget ya!

Jongin mendekatkan wajahnya ke wajahku. “E-eh, a-ada apa?” tanyaku panik. Ia seperti menyelidiki wajahku. “Rasanya ada sesuatu.” ujarnya. Kyaa! Dia tahu?!

Ng-nggak kok!” seruku berbohong dengan gerakan tangan yang tidak tenang. Jongin menghela napas. “Begitu, ya. Kau merahasiakannya dariku?” tanya Jongin. Aku benar-benar merasa bersalah, dan perlahan-lahan seakan kepalaku mengecil di sebelah Jongin. “Apa boleh buat, ternyata ada hal-hal yang Soojung-ssi nggak ingin cerita padaku. Sepertinya aku nggak bisa membantumu, ya.” ujarnya lagi.

Duuuh, kalau dia bicara begitu, aku jadi nggak enak hati. Mau nangis saja rasanya! Hueee!

.
.
.

Author’s POV

Jongin sedang berjalan menuju ruang belajar di bimbelnya ketika tiba-tiba menangkap sosok yang dikenalnya. “Eoh, adiknya Soojung.” sapa Jongin pada Yeoreum. “Sudah selesai pelajarannya?” tanya Jongin sementara Yeoreum terlihat kesal dengan kedatangan Jongin dan pergi meninggalkan Jongin. Namun, sebelum benar-benar jauh, Jongin berseru. “Ternyata!,” perkataan Jongin cukup membuat Yeoreum berhenti. “Kakakmu berharga buatmu, kan.” ujarnya lebih pelan.

Yeoreum menoleh dengan geram. “Kau populer, kan?! Mestinya kau cari cewek yang serasi denganmu! Bukan dengan cewek bodoh seperti kakakku!” seru Yeoreum sambil menunjuk-nunjuk Jongin. Jongin terpaku sejenak. “Hm? Aku kurang paham apa namanya. Tapi aku ingin melakukan sesuatu pada dia.” ujar Jongin sambil tersenyum. Yeoreum memelototkan matanya. “MWORAGO?! APA MAKSUDNYA?!”

Jongin menggeleng-geleng.

“Grr! Huh! Mungkin, sekaranglah waktunya menentukan. Soalnya sebentar lagi orang itu datang.”

“Orang itu…?”

.
.
.

Author’s POV

Nyonya Jung terus memotong timun tanpa memedulikan rengekkan Soojung. “Eomma, ayolaah. Guru lesnya nggak usah, deh.” ucapnya melas. Ibu Soojung menoleh dengan kesal. “Tapi mid semester lalu nilaimu ada yang merah, kan! Kau bisa memperbaiki sendiri?” tanya Ibu Soojung. Soojung hanya diam karena dia tahu apa yang dikatakan Ibunya ada benarnya juga.

Soojung pergi menuju kamarnya dengan frustrasi. “Uuuh! Gimana nih?!” serunya. Yeoreum memasuki rumah lalu berhenti di depan Soojung. “Eoh, Yeoreum-ah.” sapa Soojung. “Aku sudah cerita.” ujar Yeoreum. “Eoh?” tanya Soojung bingung. “Tentang guru lesmu pada Jongin. Aku bilang kalau dia cinta pertamamu.” ujarnya sambil melewati Soojung menuju kamarnya. Sedangkan Soojung hanya bisa diam membeku. “EEEHHH?!”

.

Jongin sedang berada di depan stasiun ketika teleponnya berbunyi. “Yeoboseyo?”

Jo-Jongin-ssi! Sekarang kau ada di mana?! Sudah pulang?!” tanya Soojung disebrang telepon. “Belum, masih di depan stasiun.” balasnya. Dari kejauhan terdengar derap-derap kaki yang terdengar sangat heboh. Saat Jongin menoleh, ternyata orang yang menimbulkan suara tersebut adalah Soojung. “Ke-keburu.” katanya dengan napas memburu. Jongin menatap Soojung tak percaya. “Soojung-ssi?”

“Ka-kau, sudah dengar?” tanya Soojung panik. Jongin bahkan masih memegangi ponselnya dalam keadaan terbuka. Jongin menutup ponsel flipnya lalu memalingkan wajahnya. “Oh iya. Aku sudah dengar. Katanya dulu kau suka dia.” ujar Jongin dengan wajah serius. Soojung memainkan kedua tangannya yang keringat dingin. “Ya-yang aku suka sekarang hanya Jongin-ssi kok!” seru Soojung berusaha meyakinkan Jongin. “Hm, aku tidak yakin.” ujar Jongin sambil menghela napasnya. “Aku nggak memikirkannya lagi! Aku suka Jongin-ssi!” seru Soojung dengan penuh keyakinan dengan wajah ingin nangis. Jongin tersenyum. “Sekali lagi.”

Soojung mengangkat wajahnya. “Eoh?” seketika itu Soojung melihat senyum jahil Jongin. “Katakan sekali lagi.”

Mwo-mwoya?! Kau iseng lagi?!” seru Soojung kesal. Jongin tertawa kencang sementara Soojung mulai memukuli lengan Jongin kesal. “Hahaha, mian. Aku nggak apa-apa, kok.” ujarnya. Jongin meletakkan tangannya pada kepala Soojung dan mulai melakukan hal semakin lama semakin terbiasa dilakukannya, yaitu mengusap kepala Soojung. “Aku ngerti, kok.” ujarnya. Di dalam hati Soojung menyumpah-nyumpahi Jongin tetapi tetap senang dengan keisengan yang dilakukan Jongin.

Jongin tersenyum manis melihat Soojung dengan ekspresi sebalnya. “Kau ini, benar-benar manis, deh.” ujar Jongin. Soojung rasanya seperti ingin pingsan saat Jongin bilang dirinya manis. Manis katanya, aku manis! seru Soojung girang dalam hati. Ini mimpi ya? Aduuh katanya aku manis!

Sementara Jongin terus-terusan mengusap kepala Soojung yang terlihat sangat bahagia. “Terima saja guru lesnnya.” ujar Jongin. “Terima?” tanya Soojung. “Iya, nilaimu pasti naik, jadi bisa lulus tes bimbel, kan?”

AAH! Jadi bisa les bersama-sama!

“A-Aku akan berusaha! Berusaha keras!” seru Soojung semangat. Ia sangat ingin belajar bersama dengan Jongin. Dengan begitu, ia bisa lebih dekat dengan Jongin.

Suatu hari… kami pasti bisa jadi pasangan serasi!

Sementara itu, di dalam stasiun, ponsel seseorang berbunyi menampilkan tulisan “Nyonya Jung” lalu ia mengangkatnya. “Yeoboseyo. Aku Minhyuk.”

Ne, Kang Minhyuk.”

“Aku ada di dekat sini, ingin berkunjung dulu.”

“Iya, sekarang di stasiun.”

“Oh, begitu. Baik, terima kasih.”

Nggak kok. Permisi.”

Pria tersebut, Kang Minhyuk, memasukkan ponselnya ke saku celananya sambil keluar dari stasiun. Saat di depan stasiun, ia menangkap seorang gadis yang sangat di kenalnya sedang berbicara dengan seorang laki-laki berseragam SMA dengan wajah sumringah.

Eoh, Soojung-ah?”

To be continued

Yeheeyy~ Selesai juga chapter 5 kkk~ Kang Minhyuk udah mulai muncul niih bwihihihi, saingan Jongin/? Apa Soojung bakal pindah hati ke Minhyuk atau tetep suka sama Jongin yaa?~ Tunggu aja chapter selanjutnya :3

Btw mungkin ada yang sadar kalo tiap chapter selalu ada konflik dan konfliknya bentar banget. Tapi setelah beberapa chapter ntar ada yang utama banget kok konfliknya yang bisa menggemparkan seluruh jagat raya /? #lebay

Mian ya harusnya update setiap sabtu cuma kemaren aku capek banget dan ga sempet nyelesain jadi baru bisa sekarang hehehe

jangan lupa baca manga aslinya dan makasih banget buat pembaca yang udh ngasih feedback!<3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s